Ukuran dan posisi benda dapat diidentifikasi secara wajar dengan RADAR, sedangkan LiDAR dapat memberikan pengukuran permukaan yang akurat. • RADAR menggunakan antena untuk transmisi dan penerimaan sinyal, sedangkan LiDAR menggunakan optik CCD dan laser untuk transmisi dan penerimaan. Ilmu Artikel Untuk Anda PerbedaanRadar, Sonar & Lidar v RADAR ( Radio Detection and Ranging) adalah suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat terbang, berbagai kendaraan bermotor dan informasi cuaca (hujan) menggunakan gelombang radio. Adabeberapa perbedaan antara sensor optik dan sensor Radar (Radio Detection and Ranging). Yang pertama adalah panjang gelombang. Sensor radar menggunakan gelombang elektromagnetik yg lebih panjang. Sehingga sensor ini mampu melakukan penetrasi atas partikel atmosferik, kayak awan, kabut, asap, debu, uap air, dan sebagainya. MengenalLIDAR dan IFSAR. DEM : Digital Elevation Model (DEM) adalah informasi fundamental untuk setiap tiga-dimensi (3-D) geo-spasialaktivitas. Banyak metodologi yang saat ini sedang digunakan untuk menghasilkan DEM untuk aplikasi yang berbeda pada berbagai skala, detail dan akurasi Interferometric Synthetic Aperture Radar (IFSAR) teknologi. sangat efektif dalam penciptaan besar daerah Perbedaanantara lidar dan radar. Perbedaan di antara mereka sesederhana dan dapat dimengerti seperti namanya. Lidar adalah radar yang memancarkan sinar laser. Prinsipnya pada dasarnya serupa, hanya saja lidar memancarkan sinar lurus, sedangkan radar memancarkan berkas gelombang elektromagnetik berbentuk kerucut. hX9g. ABSTRAK Lidar adalah salah satu teknik penginderaan jauh dengan menggunakan sensor aktif. Kelebihan dari sensor lidar yang dapat mencari celah terkecil diantara kanopi dan memantul dari mulai pucuk pohon, mahkota, sampai permukaan tanah merupakan terobosan bermanfaat untuk pemetaan struktur vertikal hutan, estimasi stok karbon dan merupakan kemampuan yang diperlukan di dalam manajemen kehutanan. Kata Kunci Lidar, Manajemen kehutanan, Stok karbon, Struktur vertikal. Figures - uploaded by Deden SyarifudinAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Deden SyarifudinContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 145 LiDAR PENGINDERAAN JAUH SENSOR AKTIF DAN APLIKASINYA DI BIDANG KEHUTANAN Oleh Irvan Sunandar 1, Deden Syarifudin 2 1 Magister Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, email irvan_san 2 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik, Universitas Pasundan, Bandung, email ABSTRAK Lidar adalah salah satu teknik penginderaan jauh dengan menggunakan sensor aktif. Kelebihan dari sensor lidar yang dapat mencari celah terkecil diantara kanopi dan memantul dari mulai pucuk pohon, mahkota, sampai permukaan tanah merupakan terobosan bermanfaat untuk pemetaan struktur vertikal hutan, estimasi stok karbon dan merupakan kemampuan yang diperlukan di dalam manajemen kehutanan. Kata Kunci Lidar, Manajemen kehutanan, Stok karbon, Struktur vertikal. I. PENDAHULUAN Mengelola hutan itu sangat sulit, terlebih menjaga kelestarian hutan membutuhkan energi lebih banyak. Sementara bukti-bukti terjadinya kerusakan hutan sudah sedemikian banyak, namun gambaran tentang kerusakannya masih tetap kabur karena data yang ada saling bertentangan, informasi yang tidak tepat, dan klaim serta bantahan yang saling bertentangan [FWI/GFW, 2001]. Oleh karena itu ada kebutuhan yang sangat mendesak untuk melakukan penilaian yang obyektif terhadap situasi hutan Indonesia, dan digunakan sebagai basis informasi yang benar bagi setiap individu atau organisasi dalam upaya melakukan perubahan positif. Ragam metode telah dipakai untuk menghasilkan angka-angka terkait kondisi hutan kita, dari metode pengukuran langsung ground measurement sampai dengan metode penginderaan jauh / inderaja remote sensing. Perbedaan informasi kehutanan terjadi karena tingkat akurasi yang berbeda diantara metode dan alat yang digunakan. Kita membutuhkan alat yang lebih akurat untuk mendapat data yang handal. Makalah ini membahas Lidar sebagai salah satu teknologi lama yang diutilisasi sehingga memiliki akurasi tinggi untuk inventarisasi hutan sebagai salah satu aplikasinya. Lidar Light Detection And Ranging adalah bagian sistem inderaja yang GPS dan INS memungkinkan geometri Lidar terukur dengan teliti. Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 146 menggunakan sensor aktif menggunakan sumber energi-nya sendiri, bukan dari pantulan sinar matahari, dan bekerja dengan membandingkan karakteristik sinyal transmisi dan pantulannya selisih waktu rambat pulsa, panjang gelombang, dan sudut pantulan [Wehr, 1999]. II. TEORI Prinsip Kerja LiDAR Lidar menggunakan laser light amplification by stimulated emission of radiation yaitu instrumen yang mengaplikasikan arus listrik kuat pada material lasable yang menghasilkan energi radiasi berupa emisi cahaya yang kuat. Emisi cahaya yang dihasilkan membentuk gelombang koheren sehingga beda fasa tetap konstan walaupun terjadi interferensi. Dibantu dengan perkembangan teknologi INS Inertial Navigation System yang akurat di akhir tahun ’90-an 0,008o presisi, membuat lidar memiliki akurasi yang memadai untuk digunakan di bidang pemetaan. INS dapat menghitung kontrol presisi dan merekam perubahan posisi wahana pesawat roll, pitch, yaw. Untuk posisi horisontalnya ditambahkan GPS Global Positioning Systems yang memberikan posisi geografis dari pesawat dengan ketelitian tinggi 10 – 50 cm, on the fly [GIM International, 2007]. Material penghasil cahaya karena tumbukan proton, umumnya material ini berupa gas atau kristal carbon dioxide, helium-neon, argon, rubies, dsb. Gambar 1. beberapa instrumen terkait Lidar dan alur pengolahan data-nya [Lohan, 2010]. Untuk mengukur jarak dari sebuah pancaran radiasi gelombang elektromagnetik dipergunakan ukuran beda fasa antara gelombang transmisi dan pantul. Beda fasa dipergunakan terlebih dahulu untuk mengukur waktu tempuh TL time of travel dengan rumusan berikut [Lohan, 2010] Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 147 Dimana n adalah jumlah gelombang penuh, T adalah waktu ditempuh cahaya yang diperlukan untuk menempuh satu panjang gelombang dan φ adalah beda fasa. Nilai n yang tidak diketahui dihitung oleh alat modulasi. Maka R atau jarak dapat dihitung dengan rumus Tabel 1. Salah satu spesifikasi Lidar komersil tinggi terbang, panjang gelombang, akurasi hor. & ver., repetisi laser, orientasi posisi, lebar scan, dsb [Optech, 2011]. Lidar dapat merekam beragam sinyal pantulan dari beberapa layer permukaan, sinyal primer dipantulkan oleh permukaan paling atas, sedangkan sinyal kedua dan seterusnya dipantulkan dari beberapa lapis permukaan tanaman rendah atau semak, pagar dan sebagainya dan sinyal akhir adalah pantulan dari permukaan tanah. Karakteristik ini membuat lidar menjadi satu-satunya sensor yang dapat membeda-bedakan citra ke dalam multi layer [Campbell, 2007]. Gambar 2. full waveform model, seluruh sinyal pantulan direkam sesuai urutan kedatangan, multi return [Optech, 2011]. Kelebihan teknologi Lidar dibandingkan teknologi inderaja lainnya pada saat ini adalah 1. Ketelitian tinggi higher accuracy, vertikal 5-15 cm & Horizontal accuracy 30-50 cm; 2. Akuisisi & Pengolahan data lebih cepat, akuisisi 1000 km2 dalam 12 jam & pembuatan DEM 1000 km2 dalam 24 jam; 3. Mengurangi human error, sebagian besar proses berlangsung otomatis; 4. Tidak tergantung cuaca dan matahari, akuisisi dapat dilakukan siang dan malam; 5. Tembus kanopi, pulsa Lidar dapat mencari celah-celah kecil diantara kanopi sehingga permukaan tanah dapat diukur juga; 6. Densitas data sangat tinggi, Lidar dapat memancarkan 167,000 pulsa per detik, lebih dari 24 titik per m2; 7. Data 3D & multiple returns, dapat mengetahui struktur vertikal; 8. Tidak memerlukan GCP, hanya diperlukan base station untuk titik referensi, bermanfaat untuk dipakai di area yang sulit didatangi; 9. Informasi tambahan, energi pantul memiliki nilai amplitudo yang berbeda tergantung reflektan-nya dan Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 148 informasi ini berguna untuk proses klasifikasi; 10. Biaya, biaya satuan Lidar lebih mahal namun produk dengan yang dihasilkan berakurasi tinggi sehingga cost benefit-nya tinggi. III. APLIKASI LIDAR DI BIDANG KEHUTANAN a. Manajemen Kehutanan Intisari dari manajemen hutan adalah menjaga keseimbangan antara proteksi hutan dan produksi hutan [Ibrahim, 2010]. Proteksi hutan adalah upaya kita untuk menjaga kondisi iklim dan kondisi fisik suatu negara pada level kenyamanan yang tinggi, terjaganya cadangan air tanah dan kesuburan tanah, konservasi keberagaman biologi hutan, serta kelestarian lingkungan. Sedangkan produksi hutan adalah upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku industri kayu olahan, tambang, perkebunan yang diambil dari hutan agar tetap berada di level yang masih bisa ditolerir reasonable dan tidak merusak hutan. Kegiatan logging adalah usaha produksi hutan yang paling banyak membawa dampak negatif, seperti kerusakan cagar alam, erosi dan hilangnya serapan air, dan regenerasi pohon yang sangat lama. Karena itu diperlukan perencanaan matang dalam proses penebangan pohon secara selektif yang dapat mengurangi dampak dari metode logging konvensional di hutan tropis tertuang dalam Standard for Reduced Impact Logging [TFF, 2007]. TFF Tropical Forest Foundation merupakan organisasi nirlaba yang mendorong pengelola hutan untuk melakukan proses logging yang memperhatikan kelangsungan hutan sustainable, dengan benefit dari TFF berupa sertifikasi RIL Reduced Impact Logging untuk tiap kayu yang diproduksi serta jasa penghubung dengan pasar internasional FML Forest Market Linking Program. Syarat partisipan program di atas adalah melakukan 1. Pemetaan pada skala operasional, ▪ Peta topografi yang memuat kontur 1 m; 2. Inventarisasi sebelum penebangan, ▪ Peta permukaan kanopi; ▪ Peta tinggi pohon, disertai identifikasi lokasi pohon dan ukuran tiap-tiap pohon; 3. Perencanaan penebangan, ▪ Peta aliran hidrologi, untuk desain aliran sungai atau cadangan air; ▪ Peta jalan logging, untuk mengestimasi kerusakan akibat pembukaan koridor jalan; 4. Penebangan selektif, labelisasi kayu tebangan; 5. Penutupan area logging setelah penebangan. Oleh karena itu manajemen hutan memerlukan peta 3 dimensi yang akurat, dan tentunya dapat dipenuhi dengan menggunakan teknologi Lidar. Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 149 Gambar 3. potongan melintang hutan dari data Lidar dapat mengetahui usia hutan, seleksi pohon siap tebang dan area terdegradasi b. Struktur Vertikal Pohon Lidar dapat dipakai untuk mengumpulkan data yang menggambarkan karakteristik struktur vegetasi. Sebagai contoh adalah sistem SLICER Scanning Lidar Imager of Canopies by Echo Recovery, merupakan aplikasi lidar altimetri untuk mendapatkan detil informasi struktur vertikal dari kanopi vegetasi merupakan informasi esensial untuk memahami fungsi dari ekosistem karena kondisi lapangan yang sulit maka tidak mudah melakukan inspeksi lapangan secara langsung [Blair, 1994 dan Mallet, 2008]. Instrumen SLICER menggunakan radiasi near infrared µm sampai 10 – 15 m. Sebagian radiasi direfleksikan oleh kanopi, dan sebagian lagi dapat mencapai tanah ground melewati gap antar pohon. Keseluruhan sinyal laser dipelajari untuk memperoleh gambaran distribusi vertikal dari pantulan laser bagian-bagian kanopi foliar dan woody dan refleksi dari tanah. Footprint yang lebih besar 5 – 15 m didesain untuk mengcakup secara simultan keseluruhan pantulan dari kanopi dan permukaan tanah, termasuk rekaman detil dari struktur mahkota pohon per individu-nya. Selisih perbedaan waktu antara sinyal inisial dan akhir menjadi basis hitungan untuk mengestimasi rata-rata tinggi pohon [Nelson, 1988]. Karena data lidar merekam karakteristik struktur dari hutan tinggi pohon, kerapatan mahkota, ukuran mahkota, dan lain-lain [Munakata, 2010 dan Peterson, 2005], maka lidar berpotensi untuk mengamati struktur 3 dimensi dari formasi vegetasi yang sangat sulit diperoleh menggunakan sensor lainnya. Sebagai contoh [Means, 2000 dan Lim, 2003] meneliti kemampuan lidar dengan percobaan airborne lidar dengan ukuran footprint m sampai m di daerah barat Oregon. Ia mendapatkan bukti bahwa Lidar efektif untuk mengestimasi area basal, tinggi, volume dan kerapatan kanopi. Berikut ini studi yang dilakukan Dong untuk memodelkan pohon dan bentuk mahkota-nya menggunakan data Lidar, dari model dapat diklasifikasikan struktur knopi menjadi cone, half ellipsoid, dan hemisphere [Dong, 2010]. Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 150 Gambar 4. a data Lidar dari profil melintang b geometri permukaan luar f2x, y & permukaan dalam f1x, y c zona luar & dalam arsir; kelas model kanopi [Dong, 2010] Titik acak dibuat di dalam lingkaran dengan radius r di dalam bidang xy, dan ketinggian z menggunakan rumusan berikut Dimana t adalah angka acak antara 0 dan 1, rumus ke-1 di atas digunakan untuk ring dengan arsir gambar. Rumus ke-2 untuk area di atas f1x, y dan di bawah f2x, y. c. Pengukuran Stok Karbon Secara umum peningkatan konsentrasi gas rumah kaca termasuk diantaranya karbon dioksida CO2 akibat aktifitas manusia selalu dikaitkan sebagai faktor penyebab perubahan iklim dan dampak yang berasosiasi pada kesehatan, ketersediaan pangan, dan degradasi lingkungan hidup [Mendelsohn, 1999]. Kepedulian terhadap masalah global yang di induksi oleh peningkatan level CO2 di atmosfer, telah mengalihkan pusat perhatian kita pada peranan hutan sebagai media penyimpanan karbon dunia. Hutan memainkan peranan penting di dalam rantai hidup karbon global carbon cycle karena hutan menyimpan sebagian besar karbon yang dihasilkan aktifitas manusia di dalam biomasa tanaman dan juga dalam tanah [Falkowski, 2000]. Hutan Indonesia merupakan 40% luas areal hutan diseluruh Asia Tenggara, dan Sekitar 40 persen dari luas hutan pada tahun 1950 ini telah ditebang dalam waktu 50 tahun berikutnya. Jika dibulatkan, tutupan hutan di Indonesia turun dari 162 juta ha menjadi 98 juta ha [FWI/GFW, 2001]. Kebijakan di dalam mengurangi emisi karbon akibat deforestasi di hutan-hutan tropis membuka jalur insentif ekonomi dari negara-negara industri bagi negara-negara berkembang, salah satu-nya adalam program REDD Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Developing Countries. Konsep REDD adalah mendorong negara berkembang untuk memelihara hutan tropis-nya dari deforestasi atau upaya reduksi emisi karbon dibawah batas ambang peningkatan stok karbon berdasarkan referensi lampau dan proyeksi ke depan [CIFOR, 2008]. Negara yang telah berhasil menunjukkan penurunan emisi karbon dapat menjual stok karbon yang mereka miliki di carbon market kepada negara industri yang berminat membeli untuk mengurangi kewajiban mereka meringankan akibat polusi industri. Walaupun polusi industri adalah dosa yang tidak dapat dihapuskan melalui model barter Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 151 stok karbon, namun setidaknya solusi bersama ini dapat meringankan beban bumi kita dalam menyangga siklus karbon. REDD Indonesia telah mencatat keberhasilan di dalam menurunkan tingkat deforestisasi dari per tahun menjadi hal ini akan berlangsung lama dengan catatan dipakai teknik monitoring hutan yang akurat, transparan, realistik, dan objektif [Behrendt, 2011]. Hanya sedikit saja diantara teknologi yang mampu mengumpulkan parameter hutan dengan akurat dan waktu yang singkat. Langkah kebijakan mengurangi emisi karbon selanjutnya membutuhkan dukungan sains dalam implementasinya. Tantangan sains diantaranya adalah menentukan angka emisi, diperlukan pengetahuan berapa luas area hutan yang dibuka dan berapa cadangan karbon yang tersimpan di pohon-pohon tersebut. Teknologi yang ada berkisar dari pengukuran biomasa langsung melalui survei lingkar dada pohon, inventarisasi dengan sensor optik fotogrametri, citra satelit, radar sensor, dan laser sensor. Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri [Gibbs, 2007]. Cara langsung menghitung jumlah karbon yang tersimpan di hutan adalah dengan menebang pohon sebagai sampel, kemudian dikeringkan dan ditimbang biomasa-nya. Nilai karbon yang tersimpan adalah setengah dari bobot biomasa kering [Hese, 2005]. Walaupun metode ini sangat akurat namun pelaksanaannya membutuhkan ratusan pohon sampel, sangat destruktif, memakan waktu banyak dan tidak efesien untuk area yang luas level nasional. Studi lainnya mencoba menggunakan sensor optik untuk menghitung stok karbon. Pendekatannya dengan mengukur konversi lahan hutan tropis menjadi jenis lahan terbuka misalnya pertanian, permukiman deforestasi yang memicu pelepasan CO2 ke atmosfer karena hilangnya biomasa tanaman, respirasi tanah atau terjadi pengurangan uptake CO2 oleh tanaman. Hubungan antara perubahan lahan dan penurunan stok karbon disebutkan di dalam studi kasus pengamatan hutan di gunung Papandayan, Indonesia antara tahun 1994 sampai dengan 2001 oleh Pusat Penelitian Ekologi dan Biosistematik, ITB. Telah terjadi perubahan lahan hutan gunung Papandayan sebesar ha menjadi lahan pertanian yang mengakibatkan penurunan stok karbon sebesar mg atau sebesar 30% dari kondisi tahun 1994 = mg [Sulistyawati, 2006]. Studi ini masih menyisakan ketidakpastian karena seiring dengan waktu terjadi peningkatan stok karbon di atas permukaan tanah yang tidak terdeteksi sensor optik pasif yang hanya menerima pantulan kanopi serta kapasitasnya hanya citra 2 dimensi. Teknik lain dengan menggunakan Lidar, sensor aktif mengirimkan pulsa cahaya laser dan mengukur selisih waktu sinyal pantul untuk menghitung langsung tinggi pohon dan struktur vertikal-nya. Cahaya mencapai kanopi dan permukaan tanah, kemudian direfleksikan kembali menuju sensor. Kemudian stok karbon diestimasi dengan menerapkan hubungan alometrik antara tinggi dari Lidar dan data cadangan karbon dari sampel lapangan [Omasa, 2003 dan Hirata, 2009]. Gambar 4. puncak tertinggi tiap pohon dari DCHM Digital Canopy Height Model [Omasa, 2003]. Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 152 Gambar 5. Total Stok Karbon Dari Setiap Pohon, Area Poligon Menunjukkan Cakupan Kanopi Setiap Pohon [Omasa, 2003]. IV. SIMPULAN DAN TREND KE DEPAN Lidar berpotensi untuk mendukung beberapa kegiatan kehutanan, mulai dari inventarisasi pohon, mengukur struktur vertikal pohon dan mengestimasi stok karbon yang ada di hutan. Kemampuan pencitraan 3 dimensi merupakan kelebihan tersendiri dari Lidar, beragam model dengan mudah dapat dibuat untuk memahami ekosistem hutan berdasarkan data x, y, z dari Lidar. Untuk pengumpulan data dengan cakupan area hutan yang lebih luas serta teknik yang lebih ekonomis diperlukan sistem lidar yang menggunakan wahana satelit. Trend ke depan ini sudah dirintis oleh beberapa negara terutama Amerika melalui program DESDynI oleh NASA, hanya saja sangat disayangkan rencana ini dibatalkan oleh Presiden Obama [The Intel Hub, 2011], kita berharap di masa mendatang program tersebut bisa diwujudkan. V. DAFTAR PUSTAKA Behrendt, R., Jain, A. 2011. Airborne Laser Technology LiDAR Lights Up Forestry Mapping in Indonesia. V1 Magazine. Blair, J. B, Coyle, J. L, 1994. Optimization of an Airborne Laser Altimeter for Remote Sensing of Vegetation and Tree Canopies. Campbell, J. B. 2007. Introduction to Remote Sensing. New York The Guildford Press. CIFOR. 2008. Monitoring forest emissions A review of methods. Bogor, Indonesia Center for International Forestry Research. Dong, P. 2010. Sensitivity of LiDAR-derived three-dimensional shape signatures for individual tree crowns a simulation study. International Journal of Remote Sensing. Falkowski, P., dkk. 2000. The Global Carbon Cycle A Test of Our Knowledge of Earth as a System. Science Magazine. FWI/GFW. 2001. Keadaan Hutan Indonesia. Bogor, Indonesia Forest Watch Indonesia dan Washington Global Forest Watch Gibbs, H. K., Sandra, B., Niles, J. O., Foley, J. A. 2007. Monitoring and Estimating Tropical Carbon Stocks making REDD a Reality. Environmental Research Letter IOP Publishing. GIM International. 2007. Product Survey Airborne LiDAR Sensors. Hese, S., dkk. 2005. Global Biomass Mapping for An Inproved Understanding of the CO2 balance. Remote Sensing Environment. Hirata, Y. 2004. The effects of footprint size and sampling density of airborne laser scanning to extract individual trees in mountainous terrain. International Archives of Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences. Hirata, Y., Furuya, N., Suzuki, M., Yamamoto, H. 2008. Estimation of stand attributes in Cryptomeria japonicaand Chamaecyparis obtusa stands from single tree detection using small-footprint airborne LiDAR data. Journal of Forest Planning. Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 153 Hirata, Y., Furuya, N., Suzuki, M., Yamamoto, H. 2009. Airborne laser scanning in forest management individual tree identification and laser pulse penetration in a stand with different levels of thinning. Forest Ecology and Management Ibrahim, S. 2009. Forest Management and Fragmentation in Tropical Forest. Selangor Forest Research Institute Malaysia. Lim, K., dkk. 2003. LiDAR Remote Sensing of Forest Structure. Progress in Physical Geography. Lohan, B. 2010. Airborne Altimetric LiDAR Principle, Data collection, processing and Applications. India IIT Kanpur, Departemen of Civil Engineering. Mallet, C., Bretar, F. 2008. Full-Waveform Topographic Lidar State of The Art. Journal of Photogrammetry & Remote Sensing. Means, J. E, dkk. 2000. Predicting Forest Stand Characteristics with Airborne Scanning Lidar. Photogrammetric Engineering & Remote Sensing. Measures, R, M. 1984. Laser Remote Sensing Fundamentals And Applications. John Wiley & Sons. Mendelsohn, R., Ariel, D. 1999. Climate Change, Agriculture, and Developing Countries Does Adaption Matter?. The World Bank Research. Munakata, K., dkk. 2010. Practical Application For Estimating The Crown Density of Conifers Using Lidar Data. International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Science. Nelson, R. , 1988. Using Airborne Lasers to Estimate Forest Canopy and Stand Characteristics. Journal of Forestry. Omasa, K, dkk. 2003. Accurate Estimation of Forest Carbon Stocks by 3-D Remote Sensing of Individual Trees. Environmental Science Technology. Peterson, B., dkk. 2005. Use of LiDAR for Forestry Inventory and Forest Management Application. Proceedings of the Seventh Annual Forest Inventory and Analysis Symposium. Sulistyawati, E., dkk. 2006. Estimation of Carbon Stock at Landscape Level using Remote Sensing a Case Study in Mount Papandayan. Indonesia Environmental Technology and Management Conference. TFF. 2007. Standard for Reduced Impact Logging. USA Tropical Forest Foundation. Watershed Sciences, Inc. 2010. LiDAR Classification and Vegetation Analysis. Wehr, A., Lohr, U. 1999. Airborne Laser Scanning – An Introduction And Overview. Journal of Photogrammetry & Remote Sensing. Zimble, D, A., dkk. 2003. Characterizing Vertical Forest Structure Using Small-footprint Airborne LiDAR. Remote Sensing of Environment. Bandung, Juli 2014 Volume 1 Nomor 2 ISSN 2355-6110 154 ... Seperti contoh yang terjadi pada pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-633 tujuan Jakarta -Bengkulu yang menabrak tiang bendera pada hari rabu tanggal 7 November 2018 yang lalu [7]. Selanjutnya ada Pesawat Lion Air Boieng-737 900 ER dengan nomor penerbangan JT-358 yang mana bersenggolan di parkiran dengan pesawat jenis yang sama dengan nomor penerbangan JT-796 pada Februari 2011 di bandara Soekarno-Hatta [8]. Banyak orang yang berspekulasi tentang penyebab dari kecelakaan tersebut yang mana jika di simpulkan hal tersebut tidak akan lari dari penjelasan tentang System Eror atau Human Eror. ...Denny DermawanPaulus SetiawanAgus BasukestiRiski Nur MuhammadThe growth of air transportation and technological developments is getting faster every year. This causes airport services to exceed the ability to provide facilities to meet growth adequately. In this case, it cannot be denied that there are always undesirable things that happen unexpectedly such as airplane accidents which are not only always in the air when flying, there are also many cases of plane accidents at the ground whether it's at the landing or parking process. Therefore, a Visual Docking Guidance System VDGS tool was designed using the TF Mini LiDAR sensor and programmed for the aircraft parking system at the airport to identify and guide pilots to find the right position when parking. This tool is able to give guidance information on the aircraft position. A >>> sign, the plane must move to the right and the // \\ sign as an indicator the aircraft is in the middle position of parking stand. The results showed that the Visual Docking Guidance System VDGS using the LiDAR sensor with a distance specification of 10m is a fairly good level of accuracy and the error obtained from testing the distance measurement tool and actual distance has an error of 0-0,7368% with an average error of Persamaan 2 adalah persamaan untuk mencari jarak berdasarkan nilai TL yang sudah di ketahui. Dimana c adalah kecepatan cahaya pada medium antara lidar dan benda yang akan di ukur jaraknya [4]. ...... Once the ToF value is determined, the distance D can be calculated. Equation 2 is a formula for calculating the distance based on known ToF, where C is the value of the light speed in the air [9]. ...Fardiansyah Nur AzizMasduki ZakarijahPerkembangan digitalisasi saat ini begitu pesat. Adanya digitalisasi menyebabkan proses pengukuran jarak dapat dilakukan tanpa menyentuh objek yang diukur. Salah satu komponen untuk pengukuran jarak yang banyak tersedia di pasaran adalah sensor light detection and ranging LiDAR. Beberapa penelitian sebelumnya terkait penerapan sensor LiDAR sudah dilakukan, seperti untuk robot automated guided vehicle AGV, quadcopter, dan pemetaan vegetasi tropis. Penelitian-penelitian sebelumnya berfokus pada penerapan sensor LiDAR dan belum menguji secara detail akurasi beserta karakteristiknya. Terdapat kemungkinan bahwa kinerja dari komponen kurang sesuai dengan spesifikasi data teknis yang dituliskan. Makalah ini menyajikan hasil pengujian kinerja sensor LiDAR jenis TF-Mini LiDAR untuk pengukuran jarak. Pengujian sensor TF-Mini LiDAR ini menggunakan metode eksperimen. Kinerja sensor dilihat berdasarkan pembacaan jarak maksimal, tingkat akurasi, pengaruh warna objek, kemiringan, dan jenis material objek yang dibaca. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kinerja sensor TF-Mini LiDAR memiliki tingkat akurasi 3,17% pada rentang 0,3 m sampai 6 m serta 3,27% pada rentang 6 m sampai 12 m dengan jarak pembacaan maksimal hingga 10 m. Warna biru dan bahan besi merupakan warna serta bahan terbaik yang dapat dibaca oleh sensor, dengan rata-rata error masing-masing sebesar 2,78% dan 3,22%. Hasil pembacaan jarak pada objek datar dengan kemiringan 10° sampai 80° kuadran 1 akan melebihi jarak sebenarnya seiring dengan bertambahnya sudut kemiringan objek dengan rata-rata error yang dihasilkan sebesar 7%. Untuk objek datar dengan kemiringan 100° sampai 170° kuadran 2 diperoleh rata-rata error sebesar 2,75%. Selain itu, makin besar sudut kemiringan objek, makin akurat pembacaan jaraknya. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, dapat diketahui bahwa sensor TF-Mini LiDAR dapat membaca jarak dengan lebih akurat ketika objek yang terdeteksi berada pada rentang jarak 0,5 m sampai 10 m dengan warna dan bahan objek yang tidak menyerap cahaya. Selain itu, posisi objek yang terdeteksi dalam keadaan lurus.... Citra yang berasal dari sensor multispectral Landsat TM dan SPOT dan Hyperspectral dapat memberikan informasi mengenai jenis batuan bumi. Selain Landsat dan SPOT yang terbaik saat ini dalam deteksi fisik spatial saat ini adalah LiDAR Light Detection and Ranging menggunakan laser light amplification by stimulated emission of radiation yaitu instrumen yang mengaplikasikan arus listrik kuat pada material lasabl dengan deteksi aktif Sunandar & Syarifudin, 2018. ...Aris RositaDeasy AryantoFitria NoorainyDwiyana PermadiGerakan tanah seringkali menimbulkan bencana pada daerah permukiman dan bahkan menimbulkan korban jiwa. Gerakan tanah sering terjadi pada daerah dengan gugus vulkano muda seperti di daerah Jawa Barat terutama di Wilayah Ciamis pada kelerengan yang curam. Kesiapsiagaan ini tentunya harus di siapkan secara menyeluruh bergantung pada kerentanan kejadian gerakan tanah dan juga waktu terjadinya bencana yang pada umumnya terjadi pada musim hujan setelah masa kering yang ekstrim melebihi seratus hari. Tulisan ini mencoba membahas sisi kebijakan dan akademik yang perlu disiapkan dalam menghadapi bencana pada BNPB Kabupaten Ciamis dari berbagai kejadian gerakan tanah yang terjadi daerah Nasol Kabupaten Ciamis. Melalui studi penelusuran dokumen dan kepustakaan sebagai metoda yang digunakan dalam membahas konsep dan strategi penanganan bencana gerakan tanah ini, kami memaparkan hal penting yang perlu dicermati dalam kebijakan pemerintah Kabupaten Ciamis. hasil yang diperoleh adalah secara empirik gerakan tanah di daerah Nasol menunjukan kerusakan yang tinggi pada daerah permukiman, kelerengan dan sangat membahayakan permukiman menempati di kelerengan lebih rendah. Keadaan ini harus terinformasikan dengan baik kepada masyarakat dan arahan mitigasi bencana yang diperlukan dalam penanganannya. Disisi lain adalah konsep BNPB harus dapat menentukan prioritas dari semua kejadian bencana di Kabupaten Ciamis adalah gerakan tanah merupakan ancaman terdepan pada saat pergantian has not been able to resolve any references for this publication. PERBEDAAN LIDAR,RADAR DAN SONAR R Dewi K 21110119130073 Berikut merupakan perbedaan Lidar, Radar dan Sonar PUTRA, 2019 Perbedaan RADAR SONAR LIDAR Gelombang Radio Suara Cahaya Klasifikasi berdasarkan gelombang - Pulsed Radars/PR Radar Berdenyut - Continuous Wave/CW Gelombang Berkesinambungan Gelombang ultrasonic Gelombang infrared Jenis-jenis - Doppler Radar - Bistatic Radar - Sonar Aktif - Sonar Pasif - Groundbased Lidar - Spaceborne Lidar - Airborne Lidar Komponen berdasarkan sistem - Antena - Transmitter pemancar sinyal - Receiver penerima sinyal . - Sinyal S - Noise N - Sensor Lidar - GPS - IMUInertial Measuring Unit - Kamera digital Kegunaan - Cuaca - Militer - Kepolisian - Penerbangan - dll - Mendeteksi kapal selam dan ranjau, - Mendeteksi kedalaman, keselamatan penyelaman,dll. - Pertanian dan Perkebunan - Arkeologi - Geomorfologi dan Geofisika Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut A. LIDAR 1. Pengertian Light Distance And Ranging Lidar adalah sebuah teknologi sensor optik yang berfungsi untuk memetakan jarak objek dalam sebuah ruang sehingga kita dapat menentukan ukuran ruang dan permukaan. Pada dasarnya lidar menggunakan pantulan sinar laser atau inframerah – near infrared NIR untuk mengukur jarak objek di dunia nyata secara realtime Solihin, 2017. Lidar memiliki kecepatan ukur yang luar biasa karena dapat melakukan mengambilan sampel data permukaan bumi lebih dari 150 kilohertz dan dapat bekerja pada siang atau malam hari. 2. Komponen Lidar Alat yang memakai sensor lidar biasanya memadukan beberapa sensor lain untuk mendukung keakuatan data. Komponen pada alat lidar pada umumnya yaitu a. Sensor Laser Komponen utama pada LiDAR yaitu sensor laser. Biasanya sensor ini merupakan sensor near infrared NIR yang dapat memancarkan sinar ke sasaran object kemudian mantul kembali ke receiver sehingga dapat menghasilkan data yang dibutuhkan untuk pemetaan 3d. Sensor ini dapat dibedakan dari kekuatan pancaran, cakupan dan jumlah sinar per second. Sensor IR khusus lidar biasanya memiliki kelebihan dapat melakukan multiple return yaitu memantulkan beberapa tembakan dalam satu waktu. b. Sistem Pemindai Optik Ada beberapa jenis pemindai optik pada sistem lidar. Ini sangat menentukan kecepatan pencitraan gambar, mode pemindaian lidar ada beberapa jenis tergantung keperluan. Misalnya seperti dual axis scanner, polygonal mirrors, azimuth & elevation atau dual oscillating plane mirrors. Beberapa mode scan tersebut digunakan sesuai dengan keperluan yang berbeda-beda. Semakin baik jenis perangkat optik, maka semakin cepat dan baik hasil yang didapat. c. Photo Detector / Receiver Kamera Untuk menghasilkan pencitraan 3D yang realis maka dibutuhkan kamera untuk mengasilkan foto saat melakukan pengukuran lidar. Foto tersebut akan ditumpang tindih secara overlay dengan data yang diterima sensor dalam bentuk X, Y dan biasanya dapat dilihat setelah operator melakukan post processing. Beberapa jenis receiver lidar antara lain photodioda dan photomultipliers. d. Sistem Pemetaan Ketika perangkat lidar dipasang pada sesuatu yang bergerak misalnya seperti satelit, drone, mobil, pesawat atau robot, lidar memerlukan data tambahan untuk menganalisa posisi, koordinat, dan lidar terintegrasi dengan sensor GPS untuk menentukan koordinat geogratis, Inertia Measurement Unit IMU untuk menentukan rotasi / orientasi dan alat pemrosesan sensor LiDAR dipasang pada platform bergerak seperti satelit, pesawat, atau kendaraan dan robot, sistem menganalisa kondisi awal untuk dijadikan posisi dan orientasi absolut. GPS umumnya digunakan untuk menentukan informasi koordinat geografis, sedangkan sensor Inertia Measurement Unit IMU digunakan untuk menentukan orientasi. Kombinasi kedua data dari perangkat tersebut digunakan sebagai metode penerjemahan data sensor ke static points yang kemudian diolah lebih lanjut untuk aplikasi ke berbagai sistem. 3. Prinsip Kerja LiDAR Pada dasarnya lidar bekerja dengan memancarkan gelombang melalui sensor laser yang dipantulkan kemudian diterima oleh scanner. Data yang dihasilkan akan diolah dan dipadukan dengan data lain yang diterima sensor pembantu seperti GPS, IMU, dan sebagainya. Dari sana kita akan mendapat perbedaan jarak, koordinat, orientasi, image / video dan data lain sesuai dengan sensor yang terdapat pada perangkat lidar. Setelah itu, data akan di proses dan dipadukan dengan data yang diterima oleh receiver camera dan ditampilkan pada layar LCD. Selain mendapatkan pencitraan 3D, kita juga akan mendapatkan hasil ukuran dalam bentuk data yang dapat diolah. Pada saat sensor di pancarkan dan diterima oleh receiver maka akan ada konversi data, dimanaD= C X t /2 D Jarak antara sensor dan objek meter c Kecepatan cahaya 3×108 m/s t waktu tempuh yang diperlukan laser s 4. Kelebihan Berikut merupakan kelebihan LiDAR a. LiDAR manggunakan gelombang aktif sehingga akuisisi laser pun dapat dilakukan malam hari. Tapi karena dalam paket system LiDAR sekarang sudah include dengan sensor kamera gelombang pasif yang hanya bisa pekerja baik pada siang hari, maka akuisisi hanya dapat dilakukan siang hari supaya kedua sensor dapat bekerja. b. Sistem LiDAR dapat melakukan akuisisi jutaan titik x,y dan elevasi z dalam per jam jauh lebih cepat dibandingkan dengan motede konvensional survey ground. c. Kerapatan point/titik ground yang dihasilkan per 1 meter sq minimal 1 point tapi bisa sampai 9 point tergantung permukaan dan tinggi terbang metode akuisisi serta FoV Field of View/ sudut pandang sensor ke bumi. Besaran pulse alat tidak begitu mempengaruhi, saat ini sudah ada vendor yang mampu membuat alat LiDAR dengan pulse diatas 500kHz, pulse besar ini akan maksimal jika pengambilan/akuisisi data dengan pesawat bisa “terbang tinggi”. Untuk wilayah Indonesia negera tropis dimana awan berada di ketinggian 1000 s/d 1500 meter, maka pesawat akan terbang di bawah awan. Untuk terbang dengan ketinggian dibawah 1000 meter, adalah cukup menggunakan pulse 75-120 kHz dan FoV 40 s/d 60 deg. d. Karena menggunakan pesawat udara, akses lebih mudah tentunya untuk mengakuisisi/mencapai ke setiap bagian site. Dan disamping itu dapat menghindari kontak langsung dengan masyarakat, yang menjadi masalah besar pada survey ground / konvensional survey. e. Hanya butuh 1 titik control tanah BM untuk radius terbang akuisisi 30 sd 40 km dari titik control tanah tersebut. f. Mampung masuk disela-sela vegerasi, karena karekter gelombang nya seperti gelombang ultraviolet dan menggunakan gelombang lebih pendek dari pada spectrum elektromagnetik yaitu sekitar nm 1064. g. Biaya lebih efisien dan efektif, jika area > Survey ground untuk bisa 1,5M sampai 2M, jika menggunkan LiDAR system dibawah 1M. 5. Kekurangan Teknologi LIDAR Berikut merupakan kekurangan LiDAR a. Sensor LiDAR system tidak bekerjaan maksimal jika terhalang awan/kabut. b. Pulse tidak dipantulkan dengan baik jika objek-objek pantul basah berair. Karena pulse Topographic LiDAR akan diserap / hilang jika mengenai air seperti sungai atau pemukaan yang masih basah akhibat embun atau hujan. LiDAR yang digunakan untuk Hydrographic berbeda dengan Topo, untuk Hydro dikenal dengan nama SHOALS atau singkatan dari Scanning Hydrographic Operational Airborne LiDAR Survey. System ini mampu mengakuisisi permukaan air dan kedalaman air 50 s/d 60 meter dari permukaan air. c. Dalam kondisi vegerasi yang sangat rapat “cahaya matahari pun” tidak bisa masuk di sela-sela dedaun, maka dapat dipastikan pulse LiDAR juga tidak akan mampu masuk sampai ke ground tanah. d. Akurasi data LiDAR atau ketelitiaan yang dihasilkan LiDAR bervariatif, sangat bergantung pada kondisi permukaan terbuka lunak, terbuka keras, semak beluka, hutan rawa, hutan keras, hutan virgin dan lain-lain. Untuk area terbuka keras ketelitan bisa mencapai dibawah 5 cm. Ketelitian Horizontal 2 kali s/d 5 kali lebih “jelek” dari dari ketelitian Vertical. B. RADAR 1. Pengertian Radio Detection and Ranging, ialah sebuah teknologi yang mampu melakukan mapping, mendeteksi, dan mengukur jarak dengan memanfaatkan gelombang ini biasanya digunakan sebagai piranti pada pesawat terbang, kapal laut, dan alat informasi seringkali digunakan dalam bidang transportasi dan dapat memberikan informasi terhadap benda-benda asing yang ada di luar infomasi tersebut, operator radar dapat melakukan mitigasi apabila akan terjadi karena itulah, kapal yang berlayar di laut atau pesawat terbang yang melintas di langit dapat mengatasi gangguan saat perjalanan. 2. Komponen Ada tiga komponen utama yang tersusun di dalam sistem radar, yaitu antena, transmitter pemancar sinyal dan receiver penerima sinyal . a. Antena Antena yang terletak pada radar merupakan suatu antena reflektor berbentuk piring parabola yang menyebarkan energi elektromagnetik dari titik fokusnya dan dipantulkan melalui permukaan yang berbentuk parabola. Antena radar memiliki du akutub dwikutub. Input sinyal yang masuk dijabarkan dalam bentuk phased-array bertingkat atau bertahap. Ini merupakan sebaran unsur-unsur objek yang tertangkap antena dan kemudian diteruskan ke pusat sistem RADAR. b. Pemancar sinyal transmitter Pada sistem radar, pemancar sinyal transmitter berfungsi untuk memancarkan gelombang elektromagnetik melalui reflektor antena. Hal ini dilakukan agar sinyal objek yang berada didaerah tangkapan radar dapat dikenali. Pada umumnya, transmitter memiliki bandwidth dengan kapasitas yang besar. Transmitter juga memiliki tenaga yang cukup kuat, efisien, bisa dipercaya, ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu berat, serta mudah dalam hal perawatannya. c. Penerima sinyal receiver Pada sistem radar, penerima sinyal receiver berfungsi sebagai penerima kembali pantulan gelombang elektromagnetik dari sinyal objek yang tertangkap oleh radar melalui reflektor antena. Pada umumnya, receiver memiliki kemampuan untuk menyaring sinyal yang diterimanya agar sesuai dengan pendeteksian yang diinginkan, dapat memperkuat sinyal objek yang lemah dan meneruskan sinyal objek tersebut ke pemroses data dan sinyal signal and data processor, dan kemudian menampilkan gambarnya di layar monitor display. Selain tiga komponen di atas, sistem radar juga terdiri dari beberapa komponen pendukung lainnya, yaitu a. Waveguide, berfungsi sebagai penghubung antara antena dan transmitter. b. Duplexer, berfungsi sebagai tempat pertukaran atau peralihan antara antena dan penerima atau pemancar sinyal ketika antena digunakan dalam kedua situati tersebut. c. Software, merupakan suatu bagian elektronik yang berfungsi mengontrol kerja seluruh perangkat dan antena ketika melakukan tugasnya masing-masing. 3. Cara Kerja Radar Konsep radar adalah mengukur jarak dari sensor ke target. Ukuran jarak tersebut didapat dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan gelombang elektromagnetik selama penjalarannya mulai dari sensor ke target dan kembali lagi ke sensor. Radar digunakan untuk mendeteksi dan menentukan lokasi suatu target berdasar karakteristik perambatan gelombang elektromaknit GEM. Hal ini dapat dilaksanakan dengan jalan mendeteksi pantulan dari GEM dengan bentuk tertentu, seperti bentuk sinusoidal yang dimodulasi pulsa, setelah GEM. yang semula dipancarkan tersebut dipantulkan kembali oleh target / objek yang dikenalinya. Dengan cara ini Radar telah meningkatkan kemampuan manusia untuk mengamati/melihat ligkungannya, terutama secara fisik. Walau demikian tidak berarti bahwa Radar telah bisa menggantikan fungsi dari mata sebagai panca untuk melihat, sama sekali tidak. Radar hanya dapat memperpanjang jarak jangkau dari mata sampai batas tertentu, sehingga manusia dapat melihat apa yang tidak dapat diamatinya secara langsung dengan mata. Pengertian “melihat” yang dilakukan oleh Radar juga tidak sama dengan pengertian melihat pada mata, karena dalam hal ini Radar tidak dapat misalnya membedakan warna dari objekyang ditinjaunya. Namun demikian dalam “melihat” ini Radar punya kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh mata, yakni kemampuannya utk “menembus” kegelapan ,kabut ,awan, salju ataupun bahan-bahan tertentu Satu hal yang paling penting dan patut dicatat adalah kesanggupan Radar untuk menentukan jarak yang tepat dari suatu target. Bila sebahagian dari sinyal yang dipancarkan Radar sampai pada suatu target, maka target tersebut akan meradiasikannya kembali ke segala arah. Antena Penerima selanjutnya akan menangkap enersi yang kembali dan meneruskannya kebagian Penerima dimana sinyal tersebut dideteksi dan dianalisa untuk mengetahui kehadiran, posisi atau kecepatan target tersebut, relatif terhadap Radar. Jarak dari target diketahui dengan mengukur waktu yang dibutuhkan oleh sinyal Radar untuk merambat menuju target dan kembali lagi ke Penerimanya. Sedang arah target ditentukan oleh arah datangnya pantulan itu sendiri. Jika target tersebut bergerak relatif terhadap Radar, maka kecepatan target diukur berdasar “Efek Doppler”, yakni pergeseran frekuensi carrier yang terjadi setelah mengalami pemantulan. Berdasar “efek Doppler” disamping dapat membedakan target bergerak dari target diam, Radar juga dapat mengetahui lintasan gerak dari suatu target. Sistem Radar mulanya dikembangkan dengan tujuan utama untuk mengetahuikedatangan dan posisi pesawat musuh serta mengarahkan dengan tepat senjata anti pesawat udara kepadanya. Meski Radar yang modern telah mempunyai beragam fungsi, namun tugas pertamanya sebagai pengukur jarak masih tetap merupakan salah satu dari fungsinya yang penting, karena sampai dengan saat ini masih belum ada satupun sistem lain yang mampu mengukur jarak secepat dan seakurat yang dilakukan Radar. Jarak target terhadap Radar dapat diketahui dengn mengukur waktu TR , yaitu waktu yang dibutuhkan oleh sinyal Radar untuk mencapai target dan kembali lagi ke Penerimanya. Pada umumnya gelombang Radar merupakan gelombang pembawa sinusoidal yang dimodulasi pulsa sehingga menghasilkan sinyal yang terputus-putus, yang mirip deretan pulsa. Bentuk umum dari sinyal Radar yang berupa a. Deretan pulsa yang terbentuk dari sinyal sinusoidal yang terputus-putus b. Pulsa pantul yang diterima seblm pulsa berikutnya terkirim. Deretan dari pulsa tersebut hendaknya sedemikian rupa sehingga pantulannya telah kembali / dideteksi Penerima sebelum pengiriman pulsa berikutnya. Jika deretan pulsa terlalu berdekatan, ada kemungkinan terjadinya “second time around echo”, yakni penerimaan pantulan/echo terjadi setelah pengiriman pulsa berikutnya. Karena “second time around echo” ini memungkinkan terjadinya kekeliruan atau salah penafsira Selain itu sesuai dengan keperluannya, adakalanya sinyal kontinu contineous wave lebih tepat dipakai sebagai sinyal Radar, yakni bagi Radar dengan efek Doppler sebagai prinsip kerjanya. 4. Komponen Radar Pada dasarnya suatu sistem Radar terdiri dari bagian-bagian a. Oscillator Sebagai pembangkit GEM b. Antena Pemancar Meradiasikan GEM yang dihasilkan Oscillator c. Antena Penerima Penerima yang akan mendeteksi energi GEM yang ditangkap oleh antena Penerima. 5. Kelebihan Radar a. Keuntungan utama RADAR, adalah memberikan kemampuan penetrasi unggul melalui segala jenis kondisi cuaca, dan dapat digunakan di siang atau malam hari. b. Radar menggunakan gelombang elektromagnetik yang tidak membutuhkan media seperti Sonar yang menggunakan air sehingga dapat digunakan di ruang dan udara. c. Radar bisa jarak jauh dan gelombang merambat dengan kecepatan cahaya ketimbang suara seperti dengan sonar. Ini kurang rentan terhadap kondisi cuaca dibandingkan dengan Laser. Dan digunakan pada malam hari tidak seperti kamera pasif. Itu tidak memerlukan kerjasama target untuk memancarkan sinyal atau emisi. d. Sangat fleksibel – dapat digunakan dalam beberapa cara! Mode diam Mode bergerak Dua mode Directional e. Spread balok dapat memasukkan banyak target! f. Dapat sering memilih target tercepat, atau refleksi terbaik! g. Masih sangat bisa diandalkan. 6. Kekurangan Radar a. Waktu – Radar dapat membutuhkan waktu hingga 2 detik untuk mengunci! b. Radar memiliki penyebaran sinar yang lebar c. Tidak dapat melacak jika perlambatan lebih dari satu d. Target besar yang dekat dengan radar dapat memenuhi penerima e. Modulasi genggam dapat memalsukan pembacaan sumber gangguan lainnya. C. SONAR 1. Pengertian Sonar Sonar Singkatan dari bahasa Inggris sound navigation and ranging, merupakan istilah Amerika yang pertama kali digunakan semasa Perang Dunia, yang berarti penjarakan dan navigasi suara, adalah sebuah teknik yang menggunakan penjalaran suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan air lainnya. Sementara itu, Inggris punya sebutan lain untuk sonar, yakni ASDIC Anti-Submarine Detection Investigation Committee. Lebih spesifik lagi, teknik sonar dapat digunakan untuk mencari keberadaan suatu objek yang berada di dalam atau dasar laut. Pada peralatan sonar terdapat suatu alat yang memancarkan gelombang bunyi yang merambat dalam air, gelombang bunyi tersebut akan memantul kembali ketika mengenai suatu obyek. 2. Komponen Sonar a. Echo sounder b. Hidrofon c. Display 3. Cara Kerja Sonar Pertama, echo sounder mengemisikan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Gelombang suara ini akan merambat dalam air. Jika mengenai obyek seperti ikan, metal, dasar laut atau benda-benda yang lain, maka gelombang suara tadi akan terpantul. Sinyal pantulan akan diterima oleh hidrofon dan ditampilkan oleh display yang menggambarkan karakteristik obyek di bawah air. Untuk mengetahui lokasi jarak dari obyek di bawah air, maka waktu yang dibutuhkan gelombang suara tersebut dapat digunakan untuk mencari jarak panjang gelombang yang ditempuh gelombang suara tersebut. Sedangkan jarak posisi aktual dari obyek tersebut diperoleh dengan membagi dua panjang gelombang λ yang ditempuh. DAFTAR PUSTAKA Anonim. LiDAR and RADAR Information. Diambil kembali dari Radat VS LiDAR VS SONAR PUTRA, A. S. 2019, September 2. Diambil kembali dari Perbedaan Radar, Sonar & Lidar Solihin, S. R. 2017, . Apa itu Lidar Bagaimana Cara Kerja dan Pemanfaatanya. Diambil kembali dari Septian Official Blog Sri, F. 2021, Juni 22. Diambil kembali dari RADAR Cara Kerja,Kegunaan,Kelebihan dan Kekurangan v RADARRadio Detection and Ranging adalah suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat terbang, berbagai kendaraan bermotor dan informasi cuaca hujan menggunakan gelombang radio. v SONAR Sound Navigation and Ranging,adalah pengukuran jarak dan navigasi suara. Dengan kata lain, Sonar merupakan teknik yang digunakan untuk menentukan posisi jarak dan navigasi dengan menggunakan gelombang suara akustik. v LIDAR Light Detection and Ranging adalah sebuah teknologi sensor jarak jauh menggunakan properti cahaya yang tersebar untuk menemukan jarak dan informasi suatu obyek dari target yang dituju. Perbedaan RADAR SONAR LIDAR Gelombang Radio Suara Cahaya Klasifikasi berdasarkan gelombang • Pulsed Radars/PR Radar Berdenyut • Continuous Wave/CW Gelombang Berkesinambungan gelombang ultrasonic/gelombang suara gelombang infrared Jenis-jenis • Doppler Radar • Bistatic Radar • Sonar Aktif • Sonar Pasif • Groundbased Lidar • Spaceborne Lidar • Airborne Lidar Komponen berdasarkan sistem • Antena • Transmitter pemancar sinyal • receiver penerima sinyal . • Sinyal S • Noise N • Sensor Lidar • GPS • IMUInertial Measuring Unit • Kamera digital Kegunaan • Cuaca • Militer • Kepolisian • Penerbangan • dll • Mendeteksi kapal selam dan ranjau, • mendeteksi kedalaman, • keselamatan penyelaman, • dll. • Pertanian dan Perkebunan • Arkeologi • Geomorfologi dan Geofisika RADAR LIDAR SONAR Perbedaan Antara LiDAR dan RADAR Pengarang Roger Morrison Tanggal Pembuatan 18 September 2021 Tanggal Pembaruan 7 Juni 2023 Video [MOBIDIC Radar vs. LiDAR. Which is better? LiDAR vs RADAR RADAR dan LiDAR adalah dua sistem rentang dan pemosisian. RADAR pertama kali ditemukan oleh Inggris selama Perang Dunia Kedua. Keduanya beroperasi di bawah prinsip yang sama meskipun gelombang yang digunakan dalam jangkauan berbeda. Oleh karena itu, mekanisme yang digunakan untuk penerimaan dan penghitungan transmisi sangat bukanlah penemuan oleh satu orang, tetapi hasil dari pengembangan berkelanjutan teknologi radio oleh beberapa individu dari banyak negara. Namun, Inggris adalah yang pertama menggunakannya dalam bentuk yang kita lihat sekarang; yaitu, dalam Perang Dunia II ketika Luftwaffe mengerahkan serangan mereka terhadap Inggris, jaringan radar yang luas di sepanjang pantai digunakan untuk mendeteksi dan melawan serangan sistem radar mengirimkan gelombang radio atau gelombang mikro ke udara, dan sebagian dari gelombang ini dipantulkan oleh objek. Gelombang radio yang dipantulkan ditangkap oleh penerima sistem radar. Durasi waktu dari transmisi hingga penerimaan sinyal digunakan untuk menghitung jarak atau jarak, dan sudut gelombang yang dipantulkan memberikan ketinggian objek. Selain itu kecepatan benda dihitung menggunakan Efek Doppler. Sistem radar tipikal terdiri dari komponen-komponen berikut. Pemancar yang digunakan untuk menghasilkan pulsa radio dengan osilator seperti klystron atau magnetron dan modulator untuk mengontrol durasi pulsa. Sebuah pemandu gelombang yang menghubungkan pemancar dan antena. Sebuah penerima menangkap sinyal yang kembali, dan pada saat tugas pemancar dan penerima dilakukan oleh antena yang sama atau komponen, duplexer digunakan untuk beralih dari satu ke yang memiliki berbagai macam aplikasi. Semua sistem navigasi udara dan laut menggunakan radar untuk mendapatkan data penting yang diperlukan untuk menentukan rute yang aman. Pengatur lalu lintas udara menggunakan radar untuk menemukan lokasi pesawat di wilayah udara yang mereka kendalikan. Militer menggunakannya dalam sistem pertahanan udara. Radar laut digunakan untuk menemukan kapal dan darat lain untuk menghindari tabrakan. Ahli meteorologi menggunakan radar untuk mendeteksi pola cuaca di atmosfer seperti angin topan, tornado, dan distribusi gas tertentu. Ahli geologi menggunakan radar penembus tanah varian khusus untuk memetakan interior bumi dan para astronom menggunakannya untuk menentukan permukaan dan geometri objek astronomi di dekatnya. LiDARLiDAR adalah singkatan dari Light Detection SEBUAHnd Rkemarahan. Ini adalah teknologi yang beroperasi di bawah prinsip yang sama; transmisi dan penerimaan sinyal laser untuk menentukan durasi waktu. Dengan lamanya waktu dan kecepatan cahaya dalam medium, jarak yang akurat ke titik pengamatan dapat LiDAR, laser digunakan untuk mencari jangkauan. Oleh karena itu, posisi pastinya juga diketahui. Data ini, termasuk kisarannya, dapat digunakan untuk membuat topografi 3D permukaan dengan tingkat akurasi yang sangat komponen utama dari sistem LiDAR adalah LASER, Pemindai dan Optik, Elektronik Fotodetektor dan Penerima, serta sistem Posisi dan kasus Laser, laser 600nm-1000nm digunakan untuk aplikasi komersial. Dalam kasus persyaratan presisi tinggi, laser yang lebih halus digunakan. Tapi laser ini bisa berbahaya bagi mata; oleh karena itu, laser 1550nm digunakan dalam kasus seperti itu. Karena pemindaian 3D yang efisien, mereka digunakan dalam berbagai bidang di mana fitur permukaan penting. Mereka digunakan dalam Pertanian, Biologi, Arkeologi, Geomatika, geografi, geologi, geomorfologi, seismologi, kehutanan, penginderaan jauh, dan fisika perbedaan antara RADAR dan LiDAR?• RADAR menggunakan gelombang radio sedangkan LiDAR menggunakan sinar cahaya, lebih tepatnya laser.• Ukuran dan posisi benda dapat diidentifikasi secara wajar dengan RADAR, sedangkan LiDAR dapat memberikan pengukuran permukaan yang akurat.• RADAR menggunakan antena untuk transmisi dan penerimaan sinyal, sedangkan LiDAR menggunakan optik CCD dan laser untuk transmisi dan penerimaan. LiDAR and radar are the two most powerful remote sensing technologies that help in tracking, detecting, and imaging objects! Both the devices have the same function – to detect the volume and presence of distant objects. Because of this reason, people often get confused between the two and use them interchangeably. The main differences between LiDAR and radar is their wavelength, and the medium they use to detect objects. The wavelength of airborne LiDAR is between 1000 – 1600 nm, and ground-based LiDAR is 500 – 600 nm., while the wavelength of radar is between 30 cm and 3 mm. LiDAR uses laser or LED light to scan and detect distant objects, while radar uses radio waves. Both technologies work on the same principle but use different sources. To learn more about the differences between LiDAR and radar, read on. Is LiDAR the Same As Radar? LiDAR is not the same as radar. LiDAR stands for light detection and ranging, while radar stands for radio detection and ranging. Both radar and LIDAR use specialized mediums to measure distance, but they are not the same. In a LiDAR device, the laser pulses are sent out in all directions and reflect off objects. As these light pulses hit an object, they reflect back to the receiver, which determines the object’s size, shape, and distance. In a radar device, radio waves are sent out using fixed or rotating antennas instead of a laser. Both of these technologies are used in a variety of applications, from mapping to surveillance. Light detection and ranging LiDAR was first developed several decades after radar. While LiDAR devices come with a transmitter and receiver, radar devices come with antennas for transmission and reception. The objects which are measured by LiDAR and radar devices differ in size, shape, and nature due to different wavelengths. As LiDAR has a micrometer range, 500 – 1600 mm, it can easily detect and map smaller objects. As for radar devices, the wavelength is longer, 30 cm and 3 mm. Because of this, radar has limitations on target size. Is LiDAR or Radar Better? LiDAR vs radar, the big question! While LiDAR can offer better accuracy, speed, and detailed information, radar is more reliable and cost-effective. Both the technologies have their advantages and disadvantages, so when questioning the use of LiDAR or radar, neither one is better than the other. Is LiDAR or Radar More Accurate? When it comes to accuracy, LiDAR is a better choice, as the results can be more accurate and detailed because of its micro wavelengths. It offers precision mapping with a higher resolution which is essential when it comes to 3D modeling. However, radar is often a better option when it comes to detecting larger objects that are in motion. But if you want to develop 3D models of objects with finer details, then LiDAR is the ideal choice. Is LiDAR or Radar Cheaper? Radar systems are cheaper compared to LiDAR, which can be an expensive technology. Radar systems for vehicles can be found for as low as a few hundred dollars. On the other hand, a high-end automotive LiDAR system can cost anywhere around $75,000. However, especially in recent years, LiDAR systems have become more affordable. A solid-state LiDAR system with no moving part is now available for $100. This is the main reason autonomous vehicles are more expensive. While top companies like Waymo, Toyota, and Uber use LiDAR systems, Tesla continues to support radar for self-driving cars. Is LiDAR or Radar More Reliable? When it comes to reliability, radar is the best choice. LiDAR uses light waves for mapping, which can be hindered by a change in the atmosphere. For example, moisture affects the performance of LiDAR systems. During bad weather conditions like snowstorms, rain, or fog, LiDAR doesn’t work well. On the other hand, radar systems aren’t affected quite as much by bad weather, which means they could be more reliable to use on most days. Does LiDAR or Radar Have a Longer Range? LiDAR has a smaller wavelength and can better detect smaller objects. But radar’s longer wavelength gives the system enough power to detect objects at a longer distance. In some cases, radar can even detect objects up to a mile away. Here are some uses LiDAR is best for Surveying Architecture Construction or industrial site inspections Archaeology Forest planning Agriculture Transport planning Oil and gas exploration Flood Modeling Here are some uses radar is best for Air traffic control Aircraft anti-collision systems Astronomy Measuring vehicle speeds Tracking and detecting ships at sea Weather observation Why Is LiDAR Faster Than Radar? Compared to radar, LiDAR uses a lower wavelength which helps to detect small objects with accuracy. The wavelength of LiDAR is lower compared to that of radar, making it more effective for detecting small objects. Because of these shorter wavelengths, LiDAR is faster than radar systems. LiDAR also uses laser light to detect objects, while radar uses sound waves. The speed of light is faster than the speed of sound, so LiDAR systems receive and transmit signals faster than the sound waves used by radar. This is another main reason why LiDAR is faster than radar. Do Police Use Radar or LiDAR? Police use both LiDAR and radar. Each of these technologies are used in speed measuring devices used by police officers. They are both useful in determining the speed of moving vehicles around them, in their own ways. LiDAR speed measuring devices are popular with police forces all over the world. They work by using pulsed infrared laser light to measure a vehicle’s speed. These devices can measure the speed of a moving vehicle and are extremely accurate. LiDAR systems are perfect when offices are working in a team as it is a two-man operation. Due to the nature of LiDAR, officers cannot use their laser guns when they are inside a moving car. This is why when you pass a police officer a little bit too fast who is also driving, they may not pull you over. This is why you will most often see police officers parked on the side of the road, with their LiDAR or radar guns pointed. This allows them to get a more accurate reading. Some LiDAR models are even designed to take license plate images at the same time as they detect excessive speeding. As for radar systems, they are often mounted to the car, which allows for police to be constantly scanning for vehicle speeds. There are antennas mounted on the front and rear of the police vehicle, which they can use while they’re driving their cars. That way they don’t need to be stationary to detect the speed. With radar, police officers can detect vehicle speeds even with windows rolled up. LiDAR cannot be used when the windows are up. If there is only one officer, then radar is usually the best option to track speeding cars. How Do Police Use LiDAR? Police use LiDAR guns that help them to determine the speed that vehicles are driving at. These laser guns emit a short burst of infrared laser light towards a car, which is reflected back to the gun. The gun has a sensor that analyzes the laser beam to generate a report which allows them to know how fast the vehicle is moving. The lasers emit pulses that are reflected off of the car and return to the police officer. These police devices use a laser beam to measure time versus distance and make mathematical calculations to determine the speed. This technology allows them to determine speeds, and write speeding tickets based on the data collected from these measurements. Officers are trained to target vehicles from 800 to 1,200 feet away. Can 4D Radar Replace LiDAR? The 4D imaging radar is a form of technology that enables accurate measurements of objects. It records and analyzes a space and can detect objects with a high degree of precision. A 4D radar is an imaging radar that integrates the fourth dimension of measurement into a 3D imaging system. It can be mounted on a drone, UAV, or satellite, and can record spatial data of a place. It can also be used for other defense-related applications, and it can even be used to map land for various purposes and disaster preparedness. Four-dimensional radar is more accurate and powerful than traditional radar, LiDAR, and cameras. It uses a “Multiple Input Multiple Output” MIMO antenna. With this new technology, one can determine the size, direction, location, speed, and elevation of objects in the environment. It can work in any weather and level of light to even detect targets behind objects. With its increased speed, accuracy, and precision, 4D radar could one day replace LiDAR systems. Do Radar Detectors Pick up LiDAR? Radar detectors don’t pick up LiDAR signals as each of these technologies work on different mediums. While radar uses sound waves, LiDAR uses laser light to detect objects. Radar systems are designed to emit and capture radio waves. They have antennas that work as a transmitter as well as receivers. They are unable to detect laser signals. To capture laser signals, special sensors are used in LiDAR systems. Can LiDAR Be Wrong or Inaccurate? While LiDAR guns are extremely accurate, they can sometimes provide wrong or inaccurate results. These guns can offer accuracy within one mile per hour up to 60 miles per hour. However, if you aim incorrectly or if the system is in motion, the results can be inaccurate. The accuracy of a LiDAR measurement is determined by several factors. The accuracy of the system will depend on the angle at which you point the gun towards the car, whether or not the surface is reflective or non-reflective surface, and whether or not the LiDAR system is in motion. This is why you need to remain stationary, clean off the device, and properly calibrate the device to avoid inaccurate results. Skipping out on any of these steps could result in a less accurate reading.

perbedaan lidar dan radar