Dalamsuku Batak Toba terdapat sistem kekerabatan yang menampilkan budaya patriarki yaitu Dalihan Na Tolu dalam bahasa Indonesia berarti Tungku Nan Tiga. Tiga unsur dalam Dalihan Na Tolu diantaranya: - Manat Mardongan Tubu (kerabat satu marga), artinya memelihara hubungan antar kerabat satu marga khususnya laki-laki.
BacaJuga. Kerajaan Islam Di Maluku. Cerita Rakyat Bahasa Makassar "TAU DORAKAYA RI TAU TOANA". Sejarah. Tolong diterjemahkan dlm bahasa Indonesia. 30 Oktober 2021 01.55. Kalau bisa menggunakan Huruf LONTARA. Agar dapat memberikan komentar, klik tombol di bawah untuk login dengan Google.
Mendengarcerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.
CeritaRakyat Nyi Roro Kidul Dalam Bahasa Jawa. Film pendek ini kami buat khusus untuk tugas mata pelajaran Bahasa Jawa. Yang menceritakan tentang seorang putri kerajaan yang harus menerima imbas Dari Cerita Nyi Roro Kidul kita dapat mengambil kesimpulan, Janganlah menyimpan rasa dendam kepada orang lain karena itu merupakan perbuatan yang
RITUALPARMALIM DALAM CERITA ASAL-USUL ETNIS BATAK: PENDEKATAN ANTROPOLOGI SASTRA . OLEH . SEVENRI HARIANJA . NIM 150701042 . Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah di ajukan untuk memeroleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat yang pernah
DWrWt. Wajah Sigale-gale. Sumber Wiki. Rupanya menyerupai manusia. Pada tubuh yang mematung itu dipakaikan busana orang dewasa sementara bahunya diselempangkan kain ulos. Matanya memancarkan tatapan kosong. Namun, ketika alunan musik gondang berdentang, tubuhnya bergerak bak penari tortor yang piawai. Siapa saja yang melihatnya niscaya akan turut terbuai lantas ikut menari. Begitulah sosok Sigale-gale, boneka kayu yang berada di Desa Tomok, Pulau Samosir, Sumatra Utara. Namun, Anda tidak perlu takut terhadap Sigale-gale. Di belakang podium tempat Sigale-gale berdiri, ada seorang dalang yang mengendalikan gerakan Sigale-gale. Tarikan benang dalang yang tersembunyi itulah yang membuat Sigale-gale seolah menari sendiri. Sigale-gale sendiri dalam bahasa Batak Toba berarti lemah gemulai. Legenda tentang Sigale-gale menurut perkiraan masyarakat Batak, seperti diteliti M. Saleh dalam Seni Patung Batak dan Nias, menyatakan bahwa kehadirannya bersamaan dengan seni topeng yang terdapat di daerah itu. Oleh karenanya, legenda Sigale-gale tidak ditemukan dalam hikayat-hikayat lama suku Batak Toba atupun pustaha Batak. Dari cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, legenda Sigale-gale mengakar bersama masyarakat Batak sebagai kearifan lokal. Dikisahkan, Sigale-gale bernama asli Manggale, putra tunggal dari seorang raja. Suatu ketika, Manggale gugur ketika bertempur melawan kerajaan seberang. Kematian Manggale menyebabkan dukacita mendalam bagi sang raja. Untuk menghidupkan kembali Manggale, seorang datu menyarankan raja untuk membuat patung yang menyerupai Manggale. Para pemahat terbaik di seantero kerajaan pun dikerahkan. Dengan kekuatan mantra para datu, patung Manggale itu bisa bergerak dan menari. Sang raja pun bungah kembali. Seluruh kerajaan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam menari bersama patung Manggale. Demikianlah legenda populer yang dituturkan pemandu wisata setempat bila kita berkunjung ke sana. Patung Sengketa Versi lain tentang kemunculan Sigale-gale sarat dengan nilai adat dan tradisi Batak yang menjunjung betapa pentingnya keturunan. Tersebutlah seorang ahli patung tersohor bernama Datu Panggana. Suatu ketika, Datu Panggana berhasil membuat patung berwujud seorang anak gadis dari kayu yang dipahatnya di hutan. Saat Datu Panggana terkagum-kagum menyaksikan hasil karyanya itu, datanglah pedagang bernama Bao Partiga-tiga melintasi hutan. Bao Partiga-tiga ternyata kagum dengan patung buatan Datu Panggana. Atas izin Datu Panggana, Bao Partigatiga mendandani patung itu dengan pakaian dan perhiasan dagangannya. Hari menjelang petang. Bao Partiga-tiga berusaha menanggalkan perhiasan dan pakaian yang melekat pada tubuh patung. Usahanya kandas, pakaian dan perhiasan tidak dapat lepas. Bao Partiga-tiga lantas pulang ke kampungnya dengan hati yang tidak ikhlas. Begitupun dengan Datu Panggana yang terpaksa meninggalkan hutan. Dalam benaknya, patung itu akan digotong keesokan hari dengan bantuan orang-orang sekampungnya. Namun, sebelum Datu Panggana tiba, pada pagi hari lewatlah seorang dukun tua bernama Datu Partaoar. Membuat Patung Sigale-Gale, sekira tahun 1937-1941. Foto KITLV Seperti Bao Partigatiga, Datu Partoar juga takjub dengan patung yang dilihatnya. Timbul niatan hatinya untuk menghidupkan patung tersebut. Dengan ramuan sakti sambil merapal mantra, Datu Partaoar membuat patung itu bergerak dan berlaku seperti manusia. Bukan main girangnya hati Datu Partaoar apalagi kerinduannya memiliki anak boru putri telah terpenuhi. Setibanya Datu Partaoar di rumah, kebahagiaan yang sama dirasakan sang istri pula. Pasangan suami-istri itu sepakat memberi nama si patung Nai Manggale. Pada hari pasar dibuka, Nai Manggale diperkenalkan sebagai putri angkat Datu Partaoar. Setiap pasang mata terpana menyaksikan kecantikan Nai Partaoar yang pandai menari. Berita tentang Nai Manggale tersiar kemana-mana, termasuk Datu Panggana dan Bao Partigatiga. Baik Datu Panggana, Bao Partiga, dan Datu Partaoar bersikukuh merasa memiliki Nai Manggale sebagai anak mereka. Ketiganya pun mengadukan permasalahan ini kepada raja. Namun, raja tidak kuasa memecahkan konflik kepemilikan tersebut. Raja menyarankan agar mereka mendatangi Aji Bahir-Bahir, sesepuh yang disegani karena kecerdasannya. Setelah mengamati duduk perkara dengan seksama, Aji Bahir-Bahir memutuskan bahwa ketiganya memang layak menjadi keluarga Nai Manggale. Datu Partaoar menjadi ayahnya, Bao Partiga-tiga menjadi iboto abang, dan Datu Panggana menjadi tulang paman. Status kekerabatan tersebut akhirnya diteima dengan lapang dada oleh semua pihak yang bertikai. Dengan demikian, ketika Nai Manggale kemudian dipersunting oleh Datu Partiktik, Bao Partigatiga dan Datu Panggana berhak mendapat bagian atas sinamot uang mahar pernikahan. Tahun-tahun berlalu. Nai Manggale dan Datu Partitktik hidup berumahtangga tanpa dikaruniai seorang anak. Kesepian membuat Nai Manggale jatuh sakit. Sebelum meninggal, Nai Manggale berwasiat agar pamannya Datu Panggana membuatkan patung anak laki-laki yang mirip dengan Nai Manggale. Lagi, Nai Manggale berpesan, hendaknya patung itu diberi nama Sigale-gale. “Dan sejak itulah, patung Sigale-gale sebuah patung kematian. Patung yang senantiasa dibuat bila seorang meninggal tanpa meninggalkan keturunan,” tulis Rayani Sriwidodo dalam Si Gale-Gale. Pertunjukan Sigale-gale tahun 1971. Foto Tropen Museum. Pagelaran upacara Sigale-gale selalu diiringi dengan musik gondang dan tari tor-tor. Upacara seperti itu, menurut Kamus Budaya Batak Toba yang disusun Marbun dan Hutapea, dinamai upacara papurpur sapata. Seperti halnya ritual tolak bala, upacara ini bertujuan agar keluarga atau kerabat yang ditinggalkan hendaknya selalu memperoleh keturunan, bukan seperti orang yang meninggal tersebut. Dari Ritus ke Pertunjukan Boneka Sigale-gale ada kalanya dibuat tanpa kepala. Kemudian, pada bagian kepala itu, ditempatkan tengkorak orang yang meninggal. Muka patung diwarnai dengan kuning telur sedangkan matanya terbuat dari buah-buahan merah atau besi berbentuk mata. Raga patung dikenakan pakaian yang bagus dan berharga. Sementara itu, rambutnya terbuat dari rambut kuda, lengkap dengan ikat kepala. Kepercayaan Batak kuno, terutama di sekitar Danau Toba meyakini, meyakini roh seseorang dapat menitis ke dalam patung ini. Pada masa lampau, perhelatan ritual Sigale-gale digelar bagai pesta rakyat yang megah. Biaya yang dikeluarkan terbilang besar. Penyelenggaranya, kata Dada Meuraxa dalam Sejarah Kebudayaan Suku-Suku di Sumatera Utara, harus sanggup menjamin para keluarga dan undangan yang datang dari berbagai kampung. Menurut kebiasaan di Toba, jika seorang meninggal tanpa keturunan lelaki harus diselenggarakan pesta kematian yang besar. Pada kesempatan itulah diadakan tarian boneka Sigale-gale yang merupakan perwakilan dari orang yang meninggal. “Tujuannya sekadar meringankan kehidupannya yang malang di alam baka,” kata Vergouwen dalam Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Vergouwen merupakan ahli hukum adat kebangsaan Belanda yang pernah bertugas di Tapanuli pada 1927-1930 Namun, semenjak masuknya agama Kristen ke Tanah Batak, upacara Sigale-gale tidak lagi menjadi ritus yang dikultuskan. Kendati demikian, boneka Sigale-gale tidak lantas lenyap. Kini, ia hanya menjadi sekedar pertunjukan hiburan yang mencerminkan budaya masyarakat Batak.
Home » Sudut Pandang » Cerita dari Batak Toba Gender, Perempuan, dan Budaya Patriarki Laki-laki dan perempuan dibedakan berdasarkan gender, diantaranya sifat biologis, fisik dan psikis. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tersebut sering melahirkan perdebatan apalagi di era saat ini. Perdebatan peran akhirnya memunculkan beberapa paham dan budaya, salah satunya budaya patriarki. Budaya ini berlaku pada suku Batak Toba. Perempuan Batak Toba mendapat diskriminasi gender dalam adat. Seorang istri harus selalu berada di bawah otoritas suami, serta saudara perempuan harus menghormati saudara laki-laki dan memiliki peran di bagian dapur sebagai parhobas pelayan dalam setiap acara kekeluargaan. Budaya patriarki adalah sistem yang memposisikan laki-laki sebagai pemilik otoritas dan kekuasaan dalam setiap aspek kehidupan. Perempuan dalam sistem ini tidak memiliki kebebasan dan selalu berada di bawah kuasa laki-laki. Di zaman prasejarah saat manusia masih belum mengenal tulisan, kedudukan perempuan dan laki-laki sama. Hal tersebut diperkuat oleh tulisan Simon de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, yang dikutip oleh Tobing 199991-92. Perempuan pada zaman itu memiliki peran penting seperti melahirkan, mengurus keluarga, dan menjahit pakaian bagi keluarganya. Sedangkan laki-laki bertugas mencari makan dan melindungi keluarga dari hal-hal di luar. Selain itu, pemegang otoritas dalam keluarga adalah perempuan. Namun peran tersebut dianggap sederajat, karena masing-masing memiliki keunggulan dalam aspek kehidupan. Setelah terjadi kemajuan zaman, pekerjaan perempuan tergantikan dengan adanya alat-alat yang bisa membantu. Majunya teknologi saat itu membuat laki-laki menjadi lebih dominan dan peran perempuan menurun. Banyak pekerjaan perempuan yang digantikan laki-laki dengan bantuan alat. Kesenggangan peran tersebut terus terjadi sampai lahirnya revolusi industri di Inggris, peran perempuan dalam membuat pakaian pun tergantikan oleh kemajuan teknologi saat itu. Derajat perempuan menjadi di bawah laki-laki, bahkan laki-laki dihormati seperti raja dalam keluarga Tobing 199991-92. Budaya tersebut berbalik setelah lahirnya revolusi industri di Inggris, saat itu alat-alat yang dapat membantu pekerjaan manusia bermunculan, sehingga pekerjaan perempuan banyak yang tergantikan dengan memanfaatkan alat-alat yang ada. Majunya industri saat itu berdampak pada peran laki-laki yang lebih menonjol dari pada perempuan. Sistem tersebut akhirnya terus berkembang dan diturunkan ke setiap generasi sebagai adat istiadat yang harus dilakukan. Di Indonesia sendiri budaya patriarki masih sangat kental meskipun sebelumnya sudah ada pelopor emansipasi wanita yakni Kartini, tapi tetap saja banyak yang memandang perempuan sebagai makhluk lemah yang hanya bisa dijadikan objek. Perempuan dianggap tidak layak memimpin dan tidak akan pernah bisa menyaingi laki-laki dalam berbagai aspek. Segala yang berhubungan dengan sosial, ekonomi, dan politik adalah ranah laki-laki, sedangkan perempuan hanya boleh fokus pada ranah domestik. Budaya patriarki ini banyak terjadi di berbagai daerah, suku, bahkan bangsa. Bahkan dari banyaknya suku di Indonesia beberapa di antaranya juga masih menganut budaya patriarki. Salah satu suku yang terkenal dengan patriarkinya adalah suku Batak. Suku Batak cukup dikenal dengan suku yang masih memegang kuat adat istiadat dan budayanya. Ke mana pun dan di mana pun, suku Batak tetap kental dengan adatnya. Selain itu, suku Batak juga dikenal sebagai suku yang orang-orangnya banyak merantau ke hampir setiap daerah di Indonesia. Khususnya di pulau Jawa. Saat merantau pun orang-orang Batak di perantauan tidak melupakan dan tidak lepas dari adat istiadatnya. Bahkan mereka membuat kumpulan-kumpulan Batak berdasarkan marga atau tempat tinggal. Suku Batak sendiri terbagi berdasarkan wilayahnya, yaitu Batak bagian selatan, timur dan utara Danau Toba. Bagian selatan yaitu Batak Toba dan Angkola. Bagian timur Batak Simalungun, sedangkan bagian utara Batak Karo dan Batak Dairi atau biasa disebut Pak-pak. Suku Batak Toba adalah salah satu yang paling menonjol dan sering terdengar namanya. Budaya patriarki dalam suku Batak khususnya Batak Toba bisa dibilang masih melekat dan telah berkembang menjadi tradisi. Dalam suku Batak Toba terdapat sistem kekerabatan yang menampilkan budaya patriarki yaitu Dalihan Na Tolu dalam bahasa Indonesia berarti Tungku Nan Tiga. Tiga unsur dalam Dalihan Na Tolu diantaranya – Manat Mardongan Tubu kerabat satu marga, artinya memelihara hubungan antar kerabat satu marga khususnya laki-laki. – Elek Marboru anak perempuan, artinya membujuk dan mengayomi saudara perempuan. – Somba Marhula-hula keluarga perempuan, saudara perempuan harus hormat kepada saudara laki-laki dan orang tua. Sistem kekerabatan tersebut masih sangat kental digunakan dan diterapkan suku Batak sebagai sikap dalam memperlakukan orang lain. Dua diantaranya dilakukan setelah ada pernikahan, yaitu Elek Marboru dan Somba Marhula-hula. Dua unsur tersebut merupakan cerminan patriarki antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Dalam setiap acara adat biasanya saudara perempuan tidak begitu dipandang dan hanya sebagai tamu yang tidak banyak ikut andil dalam acara utama, tapi memegang peran di dapur atau sering disebut parhobas yang artinya pelayan. Sedangkan saudara laki-laki menjadi raja dan tokoh utama dalam acara adat. Itu harus dan mutlak. Dalam adat masyarakat Toba, perempuan dipandang sebagai anak yang berada di urutan kedua, sedangkan anak laki-laki di urutan pertama, bahkan dianggap raja. Anak laki-laki dalam suku Batak sangat diagungkan dan diharapkan. Hal ini terjadi karena laki-laki memiliki peran besar dalam membawa dan meneruskan nama keluarga atau biasa disebut marga. Marga adalah identitas berharga dan penting dalam suku Batak. Sebagai tanda kekerabatan marga hanya diturunkan dari laki-laki. Anak perempuan dalam suku Batak Toba dianggap penting dalam hal menghasilkan penerus bagi marga para laki-laki. Bisa dikatakan dalam satu keluarga dipandang cacat jika tidak memiliki anak laki-laki, tapi tidak berpengaruh jika tidak memiliki anak perempuan. Untuk anak perempuan, marga hanya akan berhenti sampai mereka saja, bahkan setelah menikah mereka akan lebih dikenal lewat marga laki-laki atau suami. Setelah menikah, anak perempuan akan ikut sepenuhnya ke keluarga suami karena dia telah dibeli dengan sinamot, sehingga dia tidak begitu wajib dalam membantu mengurus orang tua, tapi wajib mengurus mertua. Patriarki antara suami dan istri di suku Batak Toba tidak jauh berbeda dengan suku dan daerah lainnya. Perempuan harus mengurus rumah dan keluarga, melayani suami dengan baik, patuh, dan hormat terhadap suami tanpa bantahan apapun. Laki-laki sebagai pemimpin yang memegang kendali dan aktif terjun ke publik. Saat ini, zaman semakin berkembang dan semakin banyak yang memperdebatkan bahkan menyatakan dengan terang-terangan kontra terhadap budaya patriarki. Perempuan pun sudah mulai muncul dan terlibat dalam hal-hal umum di masyarakat, begitupun perempuan Batak Toba. Bahkan dalam beberapa kejadian perempuan Batak sering dianggap lebih keras dan bijak daripada laki-laki, terutama dalam hubungan rumah tangga. Namun dalam adat istiadat terutama dalam sistem Dalihan Na Tolu, kedudukan perempuan masih belum mengalami perubahan atau mungkin tidak akan mengalami perubahan. Adat istiadat yang telah lama diturunkan dan sangat kental dalam suku Batak membuat budaya patriarki tersebut akan terus berlangsung. Pihak perempuan Batak pun sejauh ini masih menerima dan merasa layak diperlakukan seperti itu. Referensi Simanjuntak, R. S. R. 2021. Eksistensi Perempuan Batak Toba di Parlemen Kabupaten Samosir dalam Budaya Patriarki. Romaia, N. N. 2001. POSISI PEREMPUAN DALAM ADAT DAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT BATAK TOBA Studi Deskriptif Tentang Subordinasi Perempuan Batak Toba di Yogyakarta Dilihat dari Sistem Ke. kerabatan Daliban Na Tolu Doctoral dissertation, UAJY.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kurikulum Merdeka atau sering disebut Kurmer tidak lepas dari pembelajaran berdiferensiasi, karena sejatinya implementasi kurikulum merdeka adalah memberikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, memberikan keleluasaan pengelolaan pembelajaran sesuai dengan karakteristik murid. Terdapat tiga jenis bentuk pembelajaran berdiferensiasi di kelas, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Modifikasi modul ajar dan penyediaan bahan ajar mutlak diperlukan untuk memenuhi diferensiasi konten. Kurikulum merdeka membebaskan Tujuan PembelajaranTPdan alur tujuan pembelajaranATP disesuaikan kerakteristik murid. Maka, guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu memilih bahan ajar sesuai dengan lingkungan bisa dipungkiri anak-anak sekarang lebih menyukai hal-hak bersifat global dan mulai melupakan sejarah lingkungannya sendiri termasuk cerita rakyat daerahnya. Anak-anak memang lebih kreatif dan lebih maju, namun kondisi psikisnya lambat laun lepas kendali. Mereka sering bersikap jauh dari nilai dan norma masyarakat di lingkungannya. Cerita rakyat daerah di manapun syarat akan nilai-nilai yang luhur perlu diadoptsi untuk pembelajaran. Di kabupaten Demak terdapat cerita rakyat Demak yang dapat dikembangkan menjadi bahan ajar dengan menjadi pengantar dalam materi pelajaran bahasa Indonesia. Langkah-langkah pengembangan Langkah pertama dalam pengembangan cerita rakyat Demak adalah mengumpulkan bahan cerita. Penulis menggunakan cerita rakyat Demak sesuai tempet mengajar. Bahan dapat ditemukan dalam buku-buku yang sudah beredar seperti Babad Demak dan lainnya, banyak juga ditemukan dalam pencarian melalui internet, namun lebih baik lagi menemukannya dari cerita langsung saksi hidup atau orang yang memiliki hubungan waris dan orang yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahan cerita sejarah Demak. Langkah berikutnya mencermati Tujuan Pembelajaran dan memilih cerita sesuai dengan materi yang dibutuhkan. Cerita rakyat menjadi pengantar setiap materi tersebut. Selanjutnya, disusun menjadi bahan ajar yang menarik untuk digunakan pada pembelajaran diferensiasi. Langkah PenerapanSebelum pembelaran guru memetakan dulu minat dan bakat murid dengan memberikan angket, berkonsultasi dengan orang tua, dan guru sebelumnya. Hasil dari pemetaan tersebut dijadikan acuan dalam membuat modul ajar dan penggunaan strategi pembelajaran. Pada pelaksaan pembelajaran di kegiatan inti pembelajaran guru mengelompokkan murid sesuai gaya belajarnya. Murid dengan gaya belajar visual atau anak-anak yang suka membaca diberikan berupa buku atau video, sedangkan kepada anak-anak dengan gaya belajar audiovisual dengan bentuk cerita langsung atau dengan bantuan audiovideo. Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik diajak langsung ke lokasi-lokasi sejarah yan banyak terdapat di Demak seperti museum Demak, masjid Agung Demak, makam Kadilangu, Sendang Puro, dan masih banyak lainnya. Bisa juga dibebaskan untuk mencari sendiri di perpustakaan sekolah buku atau gambar yang diperlukannya. Guru memantau keaktifan murid dan memandu setiap langkah berdiferensiasi dengan bahan ajar cerita rakyat daerahDemak, membuat murid lebih tertarik dalam mempelajari dan memahami materi. Selain itu secara tidak sengaja mereka akan mengadopsi nilai-nilai luhur yang terdapat pada cerita rakyat tersebut. Lebih luas lagi dapat mewujudkan pelajar profil pancasila. Penulis yakin setiap daerah terdapat cerita rakyat dengan nilai-nilai luhur yang dapat diadopsi sebagai bahan pembelajaran. Selamat memandu Bapak Ibu guru. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Herman Neubronner van der Tuuk, penerjemah Injil dalam bahasa Batak. Foto KITLV. Tanah Batak pernah kedatangan tamu asing. Matanya sipit dan berkulit kuning. Orang Batak setempat menyebutnya dengan panggilan “Si Pandortuk”. Tapi siapa nyana, pendatang asing itu ternyata memiliki darah Belanda. Nama lengkapnya Herman Neubronner van der Tuuk. Bermodal pengetahuan bahasa Batak pesisir dan disertai seorang pedagang Melayu, van der Tuuk tiba di Lembah Bakara pada Februari 1853. Van der Tuuk jadi orang Eropa pertama yang menyaksikan keberadaan Danau Toba –tempat yang bagi pendatang asing saat itu tidak lebih dari kabar burung. Sebelum van der Tuuk, orang Batak Toba gigih merahasiakan petunjuk arah ke Danau Toba. “Mereka menganggap itu sebagai tempat tinggal para dewa dan kekuatan yang mengendalikan dunia,” tulis van der Tuuk dalam suratnya suratnya tanggal 23 Juli 1853 kepada Profesor Jan van Gilse, sekretaris Lembaga Alkitab Belanda dikutip Beekman dalam Fugitive Dreams An Anthology of Dutch Colonial Literature. Selain melihat Danau Toba dan rumah-rumah Bolon yang megah bak istana, van der Tuuk mendapati apa yang dicarinya. Dia bercengkerama dengan para datu dukun adat yang menyalin tulisan kitab kulit kayu yang disebut pustaha. Gambaran peradaban Batak diperolehnya melalui pustaha sejarah penciptaan, cerita rakyat, pranata sosial, hingga mantra-mantra. Pengalamannya memasuki jantung Tanah Batak yang keramat itu meneguhkan niatan van der Tuuk untuk melanjutkan tugas mulia yang sempat tertunda. Mata van der Tuuk kian tercelik untuk menerjemahkan Injil, bagian dari kitab suci agama Kristen. Bagi penganut Kristen, Injil adalah kabar keselamatan yang memberitakan penebusan umat manusia dari dosa oleh Yesus Kristus. “Sekarang aku yakin untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak Toba,” kata van der Tuuk di bagian akhir suratnya kepada van Gilse. Pekerjaan yang semula dibencinya. Menjadi Penerjemah Injil Van der Tuuk lahir di Malaka pada 24 Oktober 1824 ketika wilayah itu dikuasai Belanda. Ayahnya, Selfridus van der Tuuk, seorang Belanda totok. Sedangkan ibunya, Loisa Neubronner, keturunan Eurasia berdarah Melayu. Setelah Malaka ditukar dengan Bengkulu lewat Traktat London, van der Tuuk menghabiskan masa kecilnya di Surabaya. Pada usia 15 tahun, van der Tuuk menamatkan sekolah formalnya. Dia diterima di jurusan hukum Universitas Groningen sesuai keinginan ayahnya. Namun di tengah jalan dia lebih tertarik mendalami studi linguistik. Sejak 1845, van der Tuuk mempelajari bahasa-bahasa Timur seperti Ibrani, Arab, dan Sansekerta di Universitas Leiden. Setahun kemudian, publikasi perdananya diterbitkan. Kemampuan van der Tuuk menguasai bahasa tidak terlepas dari daya ingatnya yang luar biasa. “Dia mempunyai fotografi memori,” tulis Beekman. Bakat van der Tuuk menarik Nederlands Bijbelgenootschap NBG/Lembaga Alkitab Belanda untuk mempekerjakannya. Saat itu, NBG membutuhkan beberapa ahli bahasa untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Makassar, Batak, Dayak, dan Bugis. Atas rekomendasi dosennya di Leiden, van der Tuuk menjadi utusan NBG untuk meneliti bahasa Batak. Pada 8 Desember 1847, van der Tuuk menandatangani kontrak dengan NBG. Dia ditugaskan membuat kamus bahasa Batak beserta tata bahasanya. Selanjutnya, dia diharuskan menerjemahkan kitab Injil Perjanjian Baru ke dalam dialek bahasa Batak. “Van der Tuuk tidak pernah menyenangi instruksi kedua penugasannya. Sikapnya terhadap agama Kristen tidak begitu positif dan selama hidupnya kemudian antipatinya menjadi lebih kuat,” tulis Andries Teeuw, linguis dan kritikus sastra Indonesia terkemuka, dalam pengantar buku van der Tuuk A Grammar of Batak Toba, cetakan 1971. Toh, van der Tuuk tetap menerima tawaran itu dengan pertimbangan pragmatis. Bekerja di Hindia Belanda memberinya kesempatan untuk mengunjungi keluarganya. Lagi pula, NBG membayarnya sebesar gulden setahun untuk pekerjaan yang dia senangi. Honor yang cukup besar pada zaman itu. Di Tanah Batak Setibanya di Sumatra pada 1851, van der Tuuk ditempatkan di Barus. Demi pengumpulan bahan penelitian, dia melakukan apa saja untuk mendapatkan kepercayaan rakyat lokal. Dengan berjalan kaki, van der Tuuk melintasi seluruh kawasan Tanah Batak. Si Pandortuk atau Raja Tuk –demikian orang-orang Batak memanggilnya– menerima siapa saja yang bertandang ke rumahnya. Pergaulan yang akrab dengan orang Batak menyebabkan van der Tuuk menentang penggunaan bahasa Melayu. Laporannya kepada NBG disertai kritik mengenai sikap pejabat Belanda yang tidak mengetahui bahasa Batak dan watak rakyatnya. “Bila pemerintah ingin memajukan orang-orang pribumi maka para pejabat hendaklah menyapa hati mereka dan itu tidak akan terjadi selagi mereka masih mempergunakan bahasa Melayu pasar. Kita terlalu sombong untuk bergaul dengan orang pribumi secara erat dan memahirkan bahasanya kita anggap barang sepele saja. Perkawinan kita dengan untung laba telah mencekik setiap perhatian untuk orang pribumi,” tulis van der Tuuk kepada NGB dikutip Rob Nieuwenhuys dalam Bianglala Sastra Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia. Van der Tuuk pula yang mendesak agar misi zending segera mengutus penginjilnya ke Tapanuli. Dia juga menganjurkan agar para penginjil itu setibanya di Tapanuli mengawini gadis-gadis Batak dan memelihara babi untuk membendung pengaruh Islam dari arah selatan. Desakan ini dilatari rasa frustrasinya menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak. Dalam suratnya kepada NBG, 27 Maret 1854, van der Tuuk menyebut kesulitan menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Batak karena tidak ada kata yang dapat ditemukan dalam bahasa ini, misalnya untuk menjelaskan kata surga, neraka, dan keabadian. “Saya merasa bahwa suatu terjemahan Alkitab yang sesungguhnya baru membuahkan hasil setelah ada pengaruh dari para zendeling,” tulis van der Tuuk, dikutip Kees Groeneboer, “Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik” termuat dalam Jurnal Humaniora Vol. 14, No. 2, 2002. Pada April 1857, van der Tuuk memutuskan ambil cuti ke Belanda. Dia membawa 152 pustaha dan 29 manuskrip bahasa untuk diolah. Di masa ini, dia menerbitkan karya literaturnya tentang linguistik Batak Bataksch-Nederduitsch Woordenboek Kamus Batak-Belanda, 1861 dan Tobasche Spraakkunst Tata Bahasa Toba, 1864. Dia juga menjadi linguis pertama yang merancang aksara Batak. Dalam Bataksch Leesboek Buku Bacaan Batak, 1860, dia membaginya ke dalam tiga set berdasarkan sub-etnis Angkola-Madailing, Toba, dan Pakpak. Selain itu, beberapa kitab Injil berhasil diterjemahkannya, yaitu Kejadian, Keluaran, Yohanes, dan Lukas. Menurut Uli Kozok, filolog Universitas Hawaii, tata bahasa Batak Toba karya van der Tuuk merupakan gramatika pertama mengenai salah satu bahasa lokal di Hindia Belanda yang disusun secara ilmiah. “Ini sungguhlah merupakan prestasi yang luar biasa mengingat bahwa zaman van der Tuuk menyusun tata bahasanya, Tanah Batak masih merupakan terra in cognita tanah yang tidak diketahui di peta ilmiah,” tulis Kozok dalam Warisan Leluhur Sastra Lama dan Aksara Batak. Pada 1861, seorang pendeta muda bernama Ludwig Inger Nommensen mengunjungi van der Tuuk di Amsterdam. Sang pendeta muda mau belajar bahasa dan budaya Batak. Nommensen kelak dikenal sebagai misionaris paling berhasil di Tanah Batak. Namun dibalik itu, ada sosok van der Tuuk, linguis telaten yang kendati mengaku ateis, telah membuka pintu bagi penyebaran agama Kristen di Tanah Batak.
Cerita lucu Batak Cerita lawak Batak yang lucu pasti bikin orang ketawa, apalagi humor tersebut masih baru pertama kali dibaca. Makanya orang selalu berusaha mencari cerita lucu terbaru, baik itu yang pendek ataupun panjang. Pada kesempatan kali ini saya kemali membagikan 5 cerita lucu yang terbilang populer di kalangan orang Batak. Karena ada beberapa dari cerita lucu berikut ini sudah sering kita dengar, tetapi walaupun begitu tetap saja tertawa setelah membacanya berulang-ulang. Inilah kumpulan lawak batak yang pasti bikin ketawa dan terhibur 1. Sipulut ni inang bao Disada huta adong sahalak ama na 7 halak ianakkonna attar somal do jolma najolo torop pinomparna. Dinasahali tarbereng ni amanta on ma inang baona modom, memang inang baonaon poso dope jala ulido memang rupana. Hape dinamodom inang baona on ranggangma hae-haena. Mulai siani gabe marsahitma manang tarhirim amantai, jala posi situtudo sahitnai. Nunga loja inantana dohot keluarga paubathon tu medis dohot tunamalo, alai didok dokter dang adong sahitni amanta i, alai nangpe songoni apala burju ma nian disukkun sinonduk naon amantai jala dielek-elek manukkun atik adong na pinarsinta ni rohana umbahen na marsahit. "Ehh... amangni gellenghu asi majo roham marnida au, nga tung loja au paubathon ho, nga suda tano maraek dohot tano mahiang holan parsiubatmu alai sahitmu dang marnamalum, molo na adongdo giot ni roham amang paboa majolo atik boha natarhirim doho" ninna inattai huhut sai tumatangis. Jadi dang tartahan ni amattaon be mamereng inattai gabe dipaboa ma.! "Imadah inang ni gellengku adongdo nian sada giotni rohangku alai molo hupaboa maila au jala mabiar au muruk ho annon tu au da inang" "Daong amang, paboa ma ahado nasolot dibagas roham dang pola muruk au daripada dang marna malum ho amang" "Nahea do tarbereng au hae-hae ni nasida inang bao mansai bontar, gabe sai marangan-angan au, mulai siani ma bossir ni sahitton" ninna amantana on ma. Gabe hohomma inattai jala laos lao ma ibana manjumpangi edana manang inang bao ni amanta on laos dipatolhasma hatani amantana i. Mambege namasai gabe dilompa edana onma sipulut dua macam, ima sipulut nabirong dohot nabontar, laoma halaki mandulo amangbaonai. Gabe maila situtu do amantai mamereng inang baonai, alai boha bahenon nunga tung sahit jala hisap ni amantaa natarlobi. Jadi dilean inang baona on ma sipulut namasak manang lomang nakkaning tu amantai, alai parjoloma dilean sipulut nabirongi, jala ninnama "Pangan hamuma amang sipulut on amang bao" Dung sae dipangan disukkun inang baona ma muse. "Tabo do diallang hamu sipulut nabirong i amang?" "Tabo situtu do inang" ninna amanta i. Dilean ma muse sipulut nabontar jala disuru asa dipangan, dungi disukkun inang baonaon mamuse. "Dia do untabo dihilala hamu amang, sipulut nabirong dohot nabottar on?" "Sarupa do tabona hudai inang bao" ninna amantai mangalusi. Jadi didok inang baona ma muse, "Antong molo songoni amang molo sarupa do daina didok hamu, songonima tong nabinereng munai, namambaen marsahit hamu, sarupado taboni nabottar dohot nabirong! jadi unang pola sai sukkun-sukkun rohamuna tu nabinereng muna i da amang! " ninna inang baona on. Dirimangi amattaon ma hata ni inang baona naulion, bahh tahe ido hape tutu ninna rohana, gabe malum ma sahit sian pamatangna nangpe dang sanga didai ibana nabinerengna i! Hahahaha... 2. Anakmu, anakku, dohot anakta Adong sahalak duda dohot janda gabe suami istri. Alai masing-masing halaki adong boanna sada be dakdanak baoa. Jadi singkat cerita dung marrumah tangga, tubu ma anak ni halaki dakdanak baoa. Jadi tusima umholong rohani halaki nadua. 5 taon kemudian, pas hatop mulak amantai sian kantor, di ida ibana ma siampudannai tangis ala di pukkul abangna na dua i. Ala di onan dope inantana, jadi di telepon ibana ma "Haloo mak ucok, pahatop majo mulak tu jabu!" "Aha namasa?" Sukkun inantai. "NUNGA TANGIS DI PUKKUL ANAKMU DOHOT ANAKKU ANAKTA!!" 3. Kepanjangan GBU Adong sada rumah makan di Medan na mambaen akka pelangganna salut marnida adong tarsurat di rumah makan i 'Tusude Pelanggan, GBU.' Gabe godang ma jolma parkarejo nang mahasiswa mangan tusi ala adong tulisan GBU nai, nataboto GBU God Bless You/Sai diramoti Debata ma ho Namambaen tamba kagum jolma, nampunasa rumah makan i parhuta-huta do jala dang parsikkola natimbo, alai diantusi mamake istilah bahasa inggris. Margait ma sahalak mahasiswa manukkun par rumah makan i, "Ai singkatan ni aha do GBU i namboru?" Sambil mangalompa dialusi inanta i ma "GAK BOLEH UTANG!" 4. Dipalao alani hobi Lao ma si Kojek martandang. Mansai las rohani si Kojek dung hundul ibana rap dhot hallet na. Dang sadia leleng, roma bapa ni itoan i. Pintor hatop do jongjong si Kojek, disurdukkon tanganna huhut didok, "Horas tulang.." Las tutu rohani bapani hallet nai,ala dibereng songon na pantun do si Kojek. Gabe rap hundul ma halaki marnonang taringot tu hadirion ni si Kojek. Hallet nai pe lao ma tu dapur mambaen kopi. Disukkun natoras ni hallet nai ma si Kojek "Aha ma hobbi mu bere?". Marpikkir si Kojek, molo hudok marbola kaki,sotung gabe didok ma annon au tukkang tunjang,molo hudok marrekket,didok muse ma annon tukkang paltap. Dialusi si Kojek ma, "Holan sada do hobbi ku tulang, ima mar catur" Pintor ditunjang amantai ma meja na dijolo ninasida, sampe marsaburan kopi na di meja i. Huhut didok, "Lao ma ho sian jabu nami on, unang jonoki be boru nami on" Tarsonggot si Kojek jala mabiar. "Aha salakku tulang?" "Haru Raja ikkon pamateon mu, lam ma simatuam!" Pintor mulak ma si Kojek. 5. Manjaha Ende di partangiangan Diari nasalpu partangiangan STM ma hami. Kebetulan di roster i au sijaha ende. Jadi nunga hupersiaphon hian akka ende sian jabu. Dung dapot waktu jam 4 dimulai ma partangiangan. Hudok ma, "Ala naung jumpang tikki, tamulai ma partangianganta, mandapoti ma akka naso ro dope!" nikku. Pendek cerita, dung ende na patoluhon ma, "Tabukka ma endetta sian no 298 ayat 1+2" nikku. Tor hutarik toon na.. "Di laaamm... laos taendehon ma!" nikku. Hape pintor tompu didok sahalak anggota ni STM i, "Painte jo, torushon hamu hata-hata nai roa begeon" inna. Tarsonggot au, gabe mekkel sude jolmai, adong na mekkel mallingik, adong na mallangak. Ujung na hutorushon ma, "Di lambungmi oo.. Jesuski tung na mardame rohangki... laos taendehonma" Baru marende ma sude, alai tong sai adong dope namekkel. Sambil marende...hudok ma antong "Unang sai mekkel be, marende ma.." Aaahhh tahe, untung do partangiangan ni STM jadi dang pola sakral, coba jo partangiangan ni gereja nga barlang be kan? O.. tahe, alani dilam mai. Itulah beberapa cerita lawak batak terbaru yang bisa membuat tertawa, mungkin kamu juga mau membaca Kumpulan Lawak Batak Khusus Dewasa di blog ini.
cerita rakyat dalam bahasa batak